Iran melaporkan bahwa serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel sejak 28 Februari telah menyebabkan kerusakan pada 942 sekolah di seluruh negeri. Dalam konferensi pers yang diadakan pada hari Minggu, 12 April 2026, juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani mengungkapkan bahwa proses rekonstruksi bangunan yang rusak diperkirakan akan memakan waktu antara dua hingga tiga bulan.
Selain itu, serangan tersebut juga telah menghancurkan lebih dari 125.640 unit sipil, termasuk sekitar 100.000 rumah, 20.500 toko, dan 339 pusat kesehatan. Informasi ini menegaskan dampak besar serangan tersebut terhadap infrastruktur sipil di Iran.
Mohajerani menambahkan bahwa untuk membangun kembali unit-unit sipil yang terkena dampak, waktu yang dibutuhkan bisa berkisar antara tiga hingga 24 bulan. Ia juga menyatakan bahwa warga yang kehilangan rumah mereka akibat serangan ini dapat memanfaatkan program pinjaman perumahan untuk membantu proses rekonstruksi.
Sebelumnya, serangan AS dan Israel telah menghantam sebuah sekolah bernama Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran Selatan, pada pagi hari tanggal 28 Februari 2026. Insiden tragis ini merenggut nyawa 168 orang, di mana lebih dari 100 di antaranya adalah anak-anak.
Rekaman video, citra satelit, serta wawancara dengan beberapa sumber independen yang memiliki informasi langsung tentang situasi di Minab mengonfirmasi bahwa serangan udara terjadi di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh. Serangan ini tidak hanya menewaskan dan melukai banyak warga sipil, termasuk anak-anak, tetapi juga menghancurkan fasilitas pendidikan yang seharusnya menjadi tempat belajar yang aman.
Amnesty International telah melakukan investigasi mendalam dan menemukan bahwa tindakan AS melanggar hukum humaniter internasional. Mereka gagal untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna mencegah kerugian yang dialami oleh warga sipil.
Dalam laporan tersebut, AS dianggap bertanggung jawab atas serangan mematikan yang terjadi di sekolah tersebut, yang dipenuhi oleh anak-anak. Amnesty menyerukan kepada pihak berwenang AS untuk memastikan bahwa investigasi dilakukan secara transparan, menyeluruh, dan hasilnya harus dipublikasikan untuk akuntabilitas publik.
Serangan ini diidentifikasi sebagai salah satu peristiwa dengan jumlah korban massal tertinggi dari serangan yang dipimpin oleh AS dan Israel. UNESCO bahkan menggambarkan peristiwa ini sebagai “pelanggaran berat” terhadap hukum internasional yang mengatur perlindungan terhadap warga sipil.
Sejak 28 Februari, lebih dari 3.000 orang telah kehilangan nyawa akibat serangan udara yang dilakukan oleh AS dan Israel di Iran. Sebagai respons, Teheran meluncurkan serangan balasan terhadap Israel, Irak, Yordania, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, sebelum akhirnya diumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada awal pekan ini.

