Rating Kinerja Trump Anjlok, Ia Menyebutnya Sebagai Berita Palsu

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengekspresikan ketidakpuasan terhadap hasil survei yang menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat persetujuan terhadap kinerjanya selama masa jabatannya yang kedua. Survei yang diterbitkan oleh NBC News Decision Desk mengindikasikan bahwa approval rating Trump kini berada pada level terendah yang pernah tercatat.
Dalam hasil polling tersebut, hanya sekitar 37 persen responden yang menyatakan setuju dengan kinerja Trump sebagai Presiden, sementara 62 persen lainnya tidak memberikan dukungan. Survei ini juga mengungkapkan bahwa mayoritas responden tidak puas dengan cara Trump menangani isu inflasi dan konflik dengan Iran, yang berkontribusi pada rendahnya peringkat kinerjanya dalam jajak pendapat ini.
Melalui akun media sosialnya yang bernama Truth, Trump mengklaim bahwa hasil survei ini adalah hasil manipulasi. Ia menyamakan hasil polling tersebut dengan hasil Pemilihan Presiden 2020 yang dianggapnya juga tidak valid.
“Saya telah melihat dan membaca komentar para pengamat serta hasil jejak pendapat, dan semua itu adalah BERITA PALSU yang tidak bisa dipercaya. Sekitar 90 persen dari apa yang mereka sampaikan adalah kebohongan dan narasi yang direkayasa. Hasil survei ini dimanipulasi sama seperti Pemilihan Presiden 2020 yang juga telah dimanipulasi,” ungkapnya dalam unggahan yang dilansir oleh berbagai sumber.
Dalam postingannya, Trump juga membandingkan penanganan konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran dengan upaya penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang berlangsung awal tahun ini, dengan nada optimis.
“Seperti hasil di Venezuela yang jarang dibahas media, saya yakin hasil di Iran bisa sangat positif. Jika para pemimpin baru Iran yang menggantikan rezim saat ini cerdas, negara itu bisa memiliki masa depan yang cerah dan sejahtera,” tulisnya.
Namun, dalam pernyataannya kepada para pemimpin Iran secara virtual sehari sebelumnya, Trump menggunakan nada yang lebih agresif dengan mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting di negara tersebut, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika mereka tidak memenuhi syarat-syarat yang diajukan dalam proposal dari Amerika Serikat.
Dengan berakhirnya perjanjian gencatan senjata dalam waktu dua minggu ke depan, laporan dari media menyebutkan bahwa negosiasi antara kedua pihak akan dilanjutkan dalam waktu dekat, di mana Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, akan memimpin pembicaraan tersebut.




