Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjangkau lebih dari sekadar aplikasi digital atau perangkat lunak. AI mulai diterapkan secara langsung pada robot yang mampu berinteraksi dengan lingkungan fisik mereka. Pendekatan yang dikenal sebagai embodied intelligence ini menggabungkan kecerdasan buatan dengan komponen fisik robot, sehingga memungkinkan mesin untuk memahami dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya serta mengambil tindakan yang sesuai.
Berbeda dengan sistem AI tradisional yang hanya dapat memproses data dalam bentuk digital, embodied intelligence memberikan kemampuan bagi robot untuk beroperasi menggunakan sensor dan aktuator yang terpasang di tubuhnya. Robot-robot ini dapat mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar, memproses data tersebut, dan merespons dengan gerakan atau tindakan yang tepat.
Dalam praktiknya, robot-robot ini memanfaatkan berbagai alat seperti kamera, mikrofon, dan sensor jarak untuk mengenali dan memahami kondisi di sekitarnya. Data yang diperoleh dari berbagai sensor ini kemudian dianalisis oleh sistem AI, yang membantu robot untuk menentukan respons yang sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Konsep embodied intelligence memungkinkan robot untuk melakukan lebih dari sekadar menjalankan perintah yang telah diprogram sebelumnya. Mereka mampu berinteraksi dengan lingkungan dengan cara yang lebih dinamis dan responsif. Kemampuan ini menjadi bagian penting dari kemajuan dalam bidang robotika, yang mengintegrasikan AI dengan sistem persepsi dan pengendalian fisik.
Salah satu contoh nyata penerapan embodied intelligence dapat dilihat pada robot quadruped bernama Argos, yang diperkenalkan oleh AiMOGA Robotics dalam forum Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026 di Jakarta pada 10 September 2026. Dalam acara tersebut, mahasiswa dan perwakilan dari berbagai perguruan tinggi diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan Argos menggunakan perintah suara.
Argos memiliki kemampuan untuk mengikuti pengguna secara otonom dan bereaksi terhadap perintah suara yang diberikan. Fitur ini menunjukkan bagaimana AI dapat digabungkan dengan teknologi robotik, sehingga interaksi antara manusia dan mesin tidak lagi terbatas pada layar atau perangkat input tradisional.
Direktur AiMOGA Indonesia, Yuri Yin, menekankan pentingnya keterlibatan sektor pendidikan dalam pengembangan teknologi ini, terutama dalam hal penelitian dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, institusi pendidikan tinggi berperan krusial dalam kemajuan embodied intelligence, bukan hanya sebagai tempat di mana teknologi diperkenalkan, tetapi juga sebagai ruang untuk riset, pengembangan talenta, dan eksplorasi penerapan teknologi ini di dunia nyata.
Pengembangan embodied intelligence memerlukan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, penglihatan komputer, sensor, hingga sistem pengendalian dan pemrosesan data. Hal ini membuka peluang yang luas bagi institusi pendidikan untuk melakukan penelitian, termasuk dalam mencari aplikasi robot untuk memenuhi berbagai kebutuhan di masyarakat.

