Interaksi antara Aldi Taher dan Ustaz Abu Takeru kini menjadi sorotan publik. Bukan karena adanya perselisihan, melainkan karena cara keduanya menangani kritik yang dianggap memberikan banyak pelajaran berharga.
Perhatian publik dimulai dari kebiasaan Aldi Taher yang sering menggunakan ungkapan “semuanya milik Allah” dalam berbagai postingan media sosialnya. Ini termasuk saat ia membahas isu-isu yang bersifat negatif, seperti stres atau masalah kehidupan lainnya. Hal ini kemudian menarik perhatian Ustaz Abu Takeru, yang memberikan teguran dengan pendekatan yang mendidik. Mari kita bahas lebih dalam mengenai situasi ini.
Ustaz Abu Takeru menekankan pentingnya etika saat menyebut nama Allah, terutama dalam konteks kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa tidak semua situasi bisa langsung dihubungkan dengan penyebutan tersebut, terutama yang berkaitan dengan hal-hal negatif.
“Namun, saya mohon agar lebih berhati-hati dalam berbicara, jangan menyatakan bahwa stres adalah milik Allah, atau hal-hal buruk lainnya. Kita harus memiliki adab saat berbicara tentang Allah,” jelas Ustaz Abu Takeru secara tegas, sebagaimana dikutip pada 10 April 2026.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa meskipun dalam ajaran Islam Allah adalah pencipta segala sesuatu, ada batasan etika dalam mengaitkan hal-hal tertentu kepada-Nya, terutama yang dianggap tidak baik oleh manusia.
“Oleh karena itu, jangan katakan bahwa Allah adalah Tuhan stres, atau pemilik dari kondisi-kondisi buruk. Meskipun kita meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah, tetapi kita tidak seharusnya menyampaikan hal tersebut dengan cara yang kurang sopan kepada-Nya,” tambahnya.
Ustaz Abu Takeru juga menyampaikan bahwa ungkapan “semuanya milik Allah” sebaiknya digunakan dalam konteks yang positif, dan bukan untuk menggambarkan situasi yang negatif.
“Jadi, kami minta agar ungkapan ‘semuanya milik Allah’ hanya digunakan untuk hal-hal yang baik. Untuk hal-hal yang buruk, meskipun kita percaya itu diciptakan oleh Allah, sebaiknya tidak dinisbatkan kepada-Nya,” ujarnya dengan jelas.
Alih-alih merespons dengan sikap defensif, Aldi Taher menunjukkan keterbukaan dan sikap positif. Ia menjawab teguran tersebut dengan penuh rasa hormat dan menjelaskan maksud sebenarnya dari pernyataannya.
“MasyaAllah Barakallah, terima kasih ya ustazku @abutakerurizal yang sudah mengingatkan. Yang saya maksud adalah berlindung kepada Allah dari stres,” tulis Aldi Taher dalam kolom komentar sebagai bentuk apresiasi atas teguran tersebut.

