Putri Syahrini dan Reino Barack ternyata telah terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Jepang sejak usia yang sangat muda. Hal menarik ini diungkapkan oleh Syahrini saat ia berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari anaknya yang tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan variasi bahasa.
Syahrini menjelaskan bahwa bahasa yang dipergunakan oleh putrinya berbeda-beda, tergantung pada siapa yang diajak berbicara. Saat bersama Reino Barack dan keluarga dari pihak ayahnya, sang anak lebih sering menggunakan bahasa Jepang. Namun, saat bersama Syahrini, percakapan mereka sering kali melibatkan bahasa Indonesia dan Inggris.
Kebiasaan ini membuat putri dari pasangan selebritas ini akrab dengan beberapa bahasa sekaligus sejak kecil. Syahrini juga menambahkan bahwa bahasa Jepang menjadi bahasa utama yang digunakan sang anak saat berinteraksi dengan ayahnya, memperlihatkan seberapa dalamnya pengaruh bahasa tersebut dalam kehidupannya.
Syahrini menekankan bahwa putrinya memiliki cara berbahasa yang berbeda saat bersama kedua orang tuanya. Reino Barack lebih cenderung menggunakan bahasa Jepang ketika berkomunikasi dengan anak mereka, sehingga menciptakan suasana bilingual yang kaya.
“Kalau dengan papanya, dia berbicara dalam bahasa Jepang. Bahasa ibu dia adalah bahasa Jepang,” ungkap Syahrini saat berdiskusi dengan Ivan Gunawan yang diunggah di YouTube C8 Podcast pada Rabu, 23 September 2026.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bahasa Jepang menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam aktivitas sehari-hari sang anak, terutama ketika berinteraksi dengan Reino. Kebiasaan ini juga tercermin saat putrinya berkomunikasi dengan anggota keluarga dari pihak ayahnya yang juga menggunakan bahasa Jepang.
“Namun, ketika berbicara dengan bapaknya dan mertua, dia benar-benar menggunakan bahasa Jepang,” tambahnya.
Berbeda dengan situasi ketika bersama Reino, putri Syahrini menggunakan kombinasi bahasa saat berbicara dengan ibunya. Syahrini menjelaskan bahwa percakapan mereka bisa berlangsung dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, membuat suasana komunikasi menjadi lebih dinamis.
“Ketika berbicara dengan mamanya, biasanya campuran. Misalnya, kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris, mamaku datang dengan bahasa Indonesia. Jadi, anaknya jadi bingung dan sudah terbiasa dengan campur-campur,” kata Syahrini.
Kondisi ini membuat sang anak terbiasa mendengarkan dan menggunakan lebih dari satu bahasa dalam aktivitas sehari-hari. Syahrini menyebutkan bahwa bahasa Indonesia cukup sering digunakan di rumah, terutama karena mayoritas staf yang bekerja di rumah mereka berasal dari Indonesia.
“Dengan saya, dia berbicara dalam bahasa Indonesia campur bahasa Inggris, tetapi karena banyak staf rumah tangga yang berasal dari Indonesia, jadi penggunaan bahasa Indonesia lebih dominan,” tambahnya.

