Armada Kapal Pertamina Dukung Distribusi Energi di Tengah Tantangan Global

Pekan ini, kapal pengangkut LPG Pertamina bernama MT Gas Attaka berhasil berlabuh di Jetty Integrated Terminal LPG Amurang, yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Kapal ini memiliki kapasitas muatan sekitar 1.700 metrik ton LPG dan memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan pasokan LPG di wilayah Sulawesi dan Kalimantan.
Di tempat lain, LPG Tanker Gas Ambalat juga telah berhasil sandar di Kalbut, Situbondo, dengan membawa pasokan LPG yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menjelaskan bahwa jalur maritim merupakan salah satu pilar utama dalam distribusi energi, terutama dalam penyaluran BBM dan LPG ke seluruh penjuru Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
“Di tengah tantangan geopolitik global yang ada, Pertamina tetap berkomitmen untuk memastikan distribusi energi berjalan lancar. Kapal-kapal kami sedang dalam perjalanan untuk menyediakan energi yang dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, Pertamina melalui subholding Downstream mengelola sebanyak 345 kapal, yang terdiri dari kapal milik dan kapal sewa. Armada ini mencakup 271 kapal pengangkut BBM/BBK, 27 kapal pengangkut crude oil, 4 kapal pengangkut bahan petrochemical, serta 43 kapal pengangkut LPG. Armada tersebut melayani beragam rute di 57 wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di berbagai daerah Nusantara, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Baron menambahkan bahwa operasional kapal dilakukan oleh awak yang bekerja secara bergantian selama 24 jam penuh untuk memastikan distribusi berlangsung dengan aman dan tepat waktu. Ini sangat penting, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem dan tantangan navigasi di wilayah kepulauan serta daerah 3T.
Menanggapi situasi geopolitik yang ada, Pertamina juga memperkuat operasional di seluruh lini bisnisnya. Sebagai perusahaan energi terintegrasi, Pertamina mendorong peningkatan produksi hulu migas untuk dapat menambah kontribusi terhadap produksi dalam negeri. Selain itu, optimalisasi kilang juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan produk energi bagi masyarakat serta sektor industri.
Di samping penguatan operasional, Pertamina berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk memastikan tata kelola distribusi energi nasional berjalan dengan baik. Pertamina mendukung langkah tegas aparat dalam menindak oknum-oknum yang terlibat dalam penimbunan maupun penyalahgunaan BBM dan LPG subsidi.
“Masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dengan melaporkan indikasi penyalahgunaan energi kepada aparat penegak hukum atau melalui Pertamina Contact Center di nomor 135. Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga energi dengan cara bijak menggunakan energi sesuai kebutuhan,” tutup Baron.



