Bahasa Pemrograman Ini Mulai Ditinggalkan, Developer Disarankan Waspada

Pernahkah kamu merasa skill yang dulu kamu pelajari dengan susah payah, kini seolah kurang relevan? Dunia teknologi berubah sangat cepat. Apa yang kemarin adalah standar, hari ini bisa saja mulai memudar.
Dalam konteks pengembangan software, fenomena ini nyata. Ada bahasa untuk menulis kode yang perlahan namun pasti mulai ditinggalkan komunitas. Ini bukan berarti mereka mati total. Banyak sistem penting di bank atau pemerintahan masih mengandalkannya.
Namun, adopsi untuk proyek baru semakin menurun. Penyebabnya beragam. Bisa karena dukungan tools yang berhenti, sintaksis yang dianggap rumit, atau ketidakmampuan beradaptasi dengan platform modern seperti mobile.
Artikel ini akan membahas tren tersebut. Kita akan lihat data dari berbagai survei industri. Tujuannya, agar kamu sebagai developer di Indonesia bisa membuat keputusan karir yang tepat. Baik untuk memilih skill baru maupun menjaga sistem warisan.
Poin Penting
- “Penurunan” berarti bahasa tersebut kurang digunakan untuk proyek baru, bukan hilang sama sekali.
- Banyak faktor penyebab, dari sintaksis kompleks hingga munculnya pesaing yang lebih mudah.
- Memahami tren ini crucial untuk perencanaan karir dan pembelajaran.
- Bahasa yang “turun” sering masih hidup dalam sistem legacy yang kritis.
- Pembahasan akan berdasarkan data dan survei terkini seperti TIOBE Index.
- Developer perlu waspada namun juga menghargai kontribusi historis setiap bahasa.
- Pilihan mempelajari atau mempertahankan suatu bahasa haruslah informed dan strategis.
Pengantar: Memahami Tren Programming Languages Declining
Mengapa sebuah bahasa untuk membuat perangkat lunak yang pernah jaya bisa kehilangan pamornya? Ini adalah pertanyaan penting bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia software development.
Naik turunnya popularitas sebuah alat penulisan kode adalah fenomena alamiah. Industri teknologi bergerak sangat cepat. Kebutuhan komputasi baru selalu muncul.
Beberapa faktor utama mempengaruhi apakah sebuah sintaksis akan bertahan atau memudar. Dukungan dari komunitas pengembang sangat krusial. Kemudahan penggunaan dan pembelajaran juga berpengaruh besar.
Relevansi dengan platform modern, seperti mobile dan cloud, menjadi penentu. Dukungan resmi dari perusahaan besar sering menjadi penggerak utama adopsi.
Untuk mendapatkan gambaran nyata, kita perlu melihat data. Survei tahunan seperti Stack Overflow Developer Survey sangat berharga.
Indeks seperti TIOBE juga melacak peringkat popularitas dari waktu ke waktu. Data ini menunjukkan pola yang jelas tentang alat mana yang sedang naik daun dan mana yang mulai sepi peminat.
Penurunan minat sering dimulai dari generasi developer baru. Mereka cenderung memilih alat yang dianggap lebih modern dan didukung dokumentasi melimpah.
Akibatnya, komunitas sekitar bahasa tersebut menyusut. Sumber daya belajar dan dukungan teknis online pun semakin langka.
| Faktor yang Mendorong Popularitas | Faktor yang Menyebabkan Penurunan |
|---|---|
| Komunitas yang aktif dan suportif | Komunitas yang menua dan tidak bertumbuh |
| Sintaksis yang mudah dipelajari dan digunakan | Sintaksis yang dianggap ketinggalan zaman atau terlalu kompleks |
| Dukungan kuat untuk platform terkini (mobile, web, cloud) | Kesulitan berintegrasi dengan teknologi modern atau dukungan platform yang buruk |
| Backing dari perusahaan teknologi besar | Penghentian dukungan resmi atau pemeliharaan alat (compiler, framework) |
| Ketersediaan banyak pustaka (library) dan framework | Ekosistem yang stagnan dan kurang inovasi |
| Performansi yang unggul untuk tugas spesifik | Performansi yang tidak kompetitif dibandingkan alternatif baru |
Penting untuk membedakan antara bahasa yang benar-benar “mati” dengan yang hanya turun popularitas. Banyak sintaksis lama masih memiliki basis pengguna setia.
Mereka sering digunakan dalam niche aplikasi yang spesifik. Sistem warisan atau legacy systems adalah contoh nyata.
Banyak bank, instansi pemerintah, dan rumah sakit masih mengandalkan sistem kritis yang dibangun dengan alat klasik. Ini justru membuka peluang karir spesialis yang unik.
Memahami alur naik-turun ini sangat strategis bagi developer di Indonesia. Kita bisa mengalokasikan waktu belajar untuk skill yang memiliki masa depan cerah.
Di sisi lain, pengetahuan tentang sistem warisan bisa menjadi nilai jual yang tinggi. Pada akhirnya, siklus hidup sebuah alat development mencerminkan evolusi kreativitas dan kebutuhan kita dalam memecahkan masalah dengan teknologi.
1. Perl: “Duct Tape of the Internet” yang Kini Mulai Usang
Di era awal internet, ada sebuah bahasa yang dijuluki ‘duct tape’ karena kemampuannya menyatukan segala hal dengan cepat. Perl lahir pada tahun 1980-an sebagai alat scripting untuk administrasi sistem Unix.
Kemudian, ia meraih popularitas sebagai bahasa serba guna. Julukan “duct tape of the internet” melekat karena ketangguhannya dalam menangani tugas-tugas seperti pemrosesan teks dan otomasi.
Pada puncaknya di akhir 1990-an, Perl adalah raja untuk pengembangan web dinamis. Banyak situs web awal dibangun menggunakan skrip CGI yang ditulis dengan alat ini.
Namun, posisinya perlahan tergeser. Saat ini, peringkatnya di indeks TIOBE bahkan berada di luar 20 besar. Apa yang terjadi?
Alasan Penurunan: Sintaksis yang Kompleks dan Kompetitor yang Lebih Ramah
Filosofi Perl adalah “there is more than one way to do it”. Ini memberi kebebasan kreatif, tetapi berdampak buruk. Kode sering menjadi sulit dibaca dan dipelihara, terutama oleh developer baru.
Sintaksisnya dianggap kompleks dan terkadang ambigu. Dalam era pengembangan kolaboratif, keterbacaan kode adalah hal krusial. Di sinilah Perl mulai kehilangan daya tarik.
Munculnya pesaing seperti Python memberikan pukulan telak. Python menawarkan kemampuan scripting dan analisis data yang serupa. Sintaksisnya jauh lebih bersih dan mudah dipelajari.
Komunitas pun banyak yang beralih. Rilis Raku (dulu Perl 6) pada 2019 justru mengurangi antusiasme. Banyak yang melihatnya sebagai perpecahan, bukan evolusi yang mulus.
Masihkah Relevan? Warisan Kode dan Niche tertentu
Meski tidak lagi banyak digunakan untuk proyek baru, Perl belum mati. Ia masih hidup dalam niche atau bidang khusus tertentu.
Contohnya adalah dunia bioinformatika dan pemrosesan log sistem. Kemampuan bawaan Perl dalam menangani teks dan pola masih sangat diandalkan di area ini.
Warisan kode atau legacy code yang luas juga menjadi domainnya. Banyak skrip otomasi server dan aplikasi web lama masih berjalan dengan Perl.
Mempertahankan sistem kritis ini justru membuka peluang karir yang unik. Jumlah developer yang ahli dalam Perl semakin sedikit.
Hal ini menciptakan permintaan spesifik untuk pemeliharaan. Keahlian ini bisa menjadi nilai jual yang tinggi di pasar tertentu.
Komunitas Perl masih aktif dan bahasa ini terus dikembangkan, misalnya dengan rencana Perl 7. Namun, momentum untuk menjadi pilihan utama telah hilang.
Pelajaran berharga dari Perl adalah bahwa kemudahan pemeliharaan dan keterbacaan kode adalah fondasi keberlanjutan. Dalam dunia pengembangan perangkat lunak modern, kerja tim dan kejelasan lebih dihargai daripada fleksibilitas yang berlebihan.
2. Objective-C: Raja Lama Dunia Apple yang Digantikan Swift
Sebelum Swift menjadi bintang baru, dunia pengembangan Apple dikuasai oleh satu bahasa yang lebih tua dan kompleks. Objective-C adalah tulang punggung untuk membuat software macOS dan iOS selama lebih dari dua dekade.
Bahasa ini merupakan perpaduan antara C dan paradigma dari Smalltalk. Fleksibilitasnya tinggi, tetapi sintaksisnya sering dianggap bertele-tele bagi developer masa kini.
Dinamika berubah total ketika Apple memperkenalkan Swift pada tahun 2014. Data terkini menunjukkan pergeseran yang dramatis.
Pada pertengahan 2024, peringkat Objective-C di TIOBE Index anjlok ke posisi 33. Sementara itu, Swift menduduki peringkat 16 yang jauh lebih baik.
Survei Stack Overflow 2024 menguatkan tren ini. Hanya 1,2% developer yang melaporkan menggunakan Objective-C dalam setahun terakhir.
Mengapa Swift Dianggap Lebih Unggul?
Apple merancang Swift dengan tujuan eksplisit. Mereka ingin alat yang lebih modern, aman, dan mudah dipelajari untuk menggantikan pendahulunya.
Sintaksis Swift bersih dan ringkas. Hal ini membuat kode lebih mudah dibaca dan ditulis dibandingkan dengan Objective-C. Developer baru pun bisa cepat memahami.
Fitur keamanan memori otomatis mengurangi risiko bug yang umum. Performanya juga sangat tinggi, bahkan untuk tugas komputasi yang berat.
Swift juga mendukung gaya pemrograman fungsional. Ini memberi developer lebih banyak pilihan dalam menyusun logika aplikasi mereka.
Komitmen Apple sangat jelas. Mereka terus mempromosikan Swift sebagai bahasa utama untuk ekosistem mereka. Dukungan komunitas dan alat bantu berkembang sangat pesat.
Nasib Objective-C Ke Depan: Pemeliharaan Sistem Legacy
Meski popularitasnya menurun, Objective-C tidak akan menghilang dalam waktu dekat. Jutaan baris kode warisan masih menjadi jantung banyak aplikasi populer.
Proses migrasi ke Swift bukan hal sederhana. Mengonversi basis kode yang besar bisa rumit, memakan waktu, dan berisiko tinggi bagi bisnis.
Ini justru membuka peluang karir yang spesifik. Developer yang mahir dalam Objective-C masih sangat dibutuhkan.
Tugas mereka adalah memelihara, memperbarui, dan mengintegrasikan sistem lama dengan komponen baru. Keahlian ini menjadi nilai jual yang unik di pasar.
Bagi developer baru yang ingin fokus pada ekosistem Apple, belajar Swift adalah keharusan. Namun, memahami dasar-dasar Objective-C bisa menjadi nilai tambah yang besar.
Pengetahuan itu berguna saat harus bekerja dengan codebase warisan yang masih aktif. Masa depan Objective-C kemungkinan besar terbatas pada peran pemeliharaan.
Sementara untuk inovasi dan proyek baru, Swift telah mengambil alih tahta. Transisi ini adalah contoh bagaimana perusahaan teknologi besar dapat dengan sengaja mengarahkan evolusi ekosistem pengembangannya.
3. Visual Basic (VB6): Simbol Kesederhanaan Era Windows 90-an

Ingatkah masa ketika membuat aplikasi Windows terasa seperti bermain puzzle visual? Itulah era Visual Basic 6. Bahasa ini adalah ikon dari zaman keemasan komputasi desktop Microsoft.
VB6 menawarkan model pemrograman yang revolusioner. Developer bisa mendesain antarmuka hanya dengan drag-and-drop komponen seperti tombol dan kotak teks.
Sintaksis dasarnya mengadopsi BASIC yang sederhana. Kombinasi ini menjadikannya pintu masuk pertama bagi jutaan orang ke dunia pembuatan software.
Popularitasnya memuncak untuk pengembangan aplikasi internal perusahaan. Banyak bisnis membuat alat utilitas dan sistem administrasi dengan cepat menggunakan VB6.
Namun, popularitas itu tidak bertahan selamanya. Microsoft secara resmi mengumumkan VB sebagai bahasa warisan lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Pergeseran besar dimulai dengan peluncuran platform .NET. Visual Basic .NET (VB.NET) yang diperkenalkan tidak sepenuhnya kompatibel dengan VB6.
Hal ini memecah komunitas pengembang. Migrasi proyek lama menjadi tugas yang rumit dan mahal bagi banyak perusahaan.
Arsitektur VB6 juga mulai tertinggal. Ketergantungannya pada teknologi COM dan kurangnya fitur berorientasi objek modern menjadi kelemahan.
Bahasa ini dianggap tidak cocok untuk proyek enterprise skala besar saat ini. Peringkat VB6 yang lama pun sudah sangat usang dalam indeks popularitas.
Meski demikian, ia belum benar-benar hilang. Masih ada banyak aplikasi VB6 yang berjalan di berbagai business, terutama sistem internal yang dibuat khusus.
Mempertahankan sistem warisan ini kini menjadi tantangan besar. Kurangnya developer muda yang mempelajarinya adalah masalah utama.
Menjalankan aplikasi lawas di Windows modern juga sering menimbulkan masalah kompatibilitas. Dukungan resmi dari Microsoft telah lama berakhir.
Bagi para programmer, keahlian di VB6 sekarang bersifat spesialis. Pekerjaan hampir eksklusif terkait pemeliharaan dan migrasi sistem lama.
Niche ini justru bisa menawarkan peluang dengan permintaan tertentu. Keahlian langka sering kali memiliki nilai jual yang tinggi.
Kisah VB6 memberikan pelajaran berharga. Mengikat diri terlalu erat dengan teknologi proprietary dari satu vendor memiliki risikonya sendiri.
Pertimbangan keberlanjutan jangka panjang sangat penting dalam memilih sebuah alat pengembangan. Warisan VB6 dalam mendemokratisasi pembuatan aplikasi Windows patut diingat.
4. COBOL: Pilar Sistem Keuangan dan Pemerintahan yang Menua
Di balik layar transaksi ATM dan klaim asuransi, ada sebuah bahasa klasik yang masih bekerja tanpa henti. COBOL (Common Business-Oriented Language) adalah legenda hidup dalam dunia pembuatan software.
Dirancang khusus pada tahun 1959 untuk aplikasi bisnis dan administrasi. Kekuatan utamanya terletak pada sintaksisnya yang mirip bahasa Inggris.
Strukturnya membuatnya mudah dipahami oleh orang non-teknis di masanya. Kemampuannya menangani pemrosesan data skala besar sangat tangguh.
Inilah yang menjadikannya fondasi sistem perbankan, kartu kredit, dan layanan publik. Fakta mengejutkannya, COBOL masih menjalankan sebagian besar transaksi keuangan global hari ini.
Sekitar 90% perusahaan Fortune 500 mengandalkannya untuk operasi inti. Ia adalah pilar tak terlihat dari infrastruktur bisnis modern.
Dilema Modernisasi: Mengganti atau Mempertahankan?
Meski vital, popularitas COBOL untuk proyek baru telah jauh menurun. Bahasa ini dianggap kuno dan bertele-tele oleh standar saat ini.
Komunitas pengembang mudanya sangat sedikit. Integrasi dengan teknologi web dan cloud modern pun penuh tantangan.
Organisasi kini menghadapi pilihan sulit. Biaya dan risiko mengganti sistem inti yang sudah puluhan tahun berjalan sangatlah besar.
Di sisi lain, mempertahankannya berarti bergantung pada segelintir ahli yang semakin langka. Keahlian ini menjadi sangat mahal di pasaran.
| Strategi: Mengganti Sistem (Rewrite) | Strategi: Mempertahankan & Memodernisasi |
|---|---|
| Biaya Awal: Sangat tinggi. Membutuhkan waktu bertahun-tahun dan tim besar. | Biaya Awal: Lebih rendah. Fokus pada peningkatan bertahap. |
| Risiko: Ekstrem. Kegagalan dapat mengganggu operasi bisnis inti. | Risiko: Terkendali. Perubahan dilakukan secara bertahap dan terisolasi. |
| Hasil: Sistem baru yang sepenuhnya modern dan mudah dipelihara. | Hasil: Sistem lama tetap berjalan, dengan antarmuka dan akses modern. |
| Tantangan: Memahami semua logika bisnis lama yang sering tidak terdokumentasi dengan baik. | Tantangan: Ketergantungan pada ahli COBOL yang semakin sedikit dan alat bantu lawas. |
| Cocok untuk: Organisasi dengan sumber daya sangat besar dan kebutuhan transformasi digital radikal. | Cocok untuk: Sebagian besar bank, instansi pemerintah, dan perusahaan asuransi dengan sistem kritis. |
Kerentanan sistem warisan ini terlihat jelas saat pandemi COVID-19. Banyak sistem pemerintah untuk klaim pengangguran mendadak perlu dimodifikasi cepat.
Struktur kode yang tua menyulitkan prosesnya. Insiden ini menyadarkan banyak pihak tentang betapa pentingnya pilar yang sudah renta ini.
Namun, situasi ini justru membuka peluang karir yang unik. Seorang programmer yang ahli dalam bahasa klasik ini sangat dicari.
Permintaan tinggi dan pasokan rendah membuat nilai jual keahlian ini melambung. Tentu, ini adalah niche yang sangat spesialis.
Strategi modernisasi yang umum adalah “membungkus” logika bisnis COBOL. Teknik ini membuat fungsionalitas inti dapat diakses via API modern.
Cara ini lebih aman daripada menulis ulang seluruh sistem dari nol. Masa depan COBOL kemungkinan besar akan seperti ini.
Ia akan tetap menjadi lapisan inti yang tersembunyi di balik antarmuka yang baru. Setidaknya untuk beberapa dekade mendatang, kehadirannya masih akan terasa.
Biaya dan risiko penggantian total seringkali terlalu besar untuk diambil. COBOL mengajarkan pelajaran berharga tentang ketahanan.
Merencanakan keberlanjutan dan kemudahan pemeliharaan sejak awal pengembangan adalah kunci. Sebuah sistem yang dirancang dengan baik bisa bertahan melampaui ekspektasi zaman.
5. Pascal: Sang Guru Pemrograman Terstruktur

Bayangkan sebuah alat yang dirancang bukan untuk membangun sistem terkompleks, tetapi untuk melatih cara berpikir yang teratur dan disiplin. Itulah esensi dari Pascal. Diciptakan oleh Niklaus Wirth pada akhir 1960-an, tujuan utamanya sangat jelas: menjadi guru terbaik untuk mengajarkan pemrograman terstruktur.
Wirth ingin mahasiswa memahami logika pembuatan kode sebelum terjun ke kerumitan teknis. Sintaksis Pascal dibuat jernih, ketat, dan sangat terorganisir. Setiap blok kode memiliki awal dan akhir yang jelas.
Penekanannya pada struktur data yang baik membuat konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Pendekatan ini menjadikannya favorit di dunia akademik sepanjang tahun 1970-an dan 80-an.
Popularitasnya meledak di era mikrokomputer pertama, seperti Apple II. Banyak orang belajar menulis kode untuk pertama kalinya dengan alat ini. Ia menjadi pintu gerbang bagi generasi awal programmer.
Lompatan besar terjadi ketika Borland meluncurkan Turbo Pascal. Ini adalah lingkungan pengembangan terintegrasi (IDE) yang revolusioner. Ia menggabungkan editor, compiler, dan tools dalam satu paket yang cepat.
Turbo Pascal membawa Pascal dari ruang kuliah ke arus utama industri. Developer profesional mulai menggunakannya untuk membuat aplikasi bisnis yang nyata. Efisiensinya dalam pembuatan perangkat lunak desktop sangat dihargai.
Pascal mendemonstrasikan suatu prinsip penting. Keterbacaan kode dan organisasi logis adalah fondasi dari perangkat lunak yang baik. Ia menanamkan ide ini jauh sebelum menjadi praktik standar di industri.
Namun, popularitasnya tidak bertahan selamanya. Dunia komputasi mulai bergeser ke sistem operasi mirip Unix pada tahun 1990-an. Pascal, meski bisa dijalankan, bukan bagian asli dari ekosistem tersebut.
Bahasa C dan kemudian C++ mengambil alih posisi dominan. Mereka menawarkan kontrol tingkat rendah dan fleksibilitas yang lebih besar. Banyak pengembang beralih untuk mengikuti tren industri yang baru.
Varian modernnya, seperti Delphi (berbasis Object Pascal), masih ada hari ini. Delphi digunakan untuk pengembangan aplikasi desktop Windows yang cepat. Namun, pangsa pasarnya sangat kecil dibandingkan dengan C#, Java, atau Python.
Warisan Pascal justru hidup dalam prinsip desain alat pengembangan masa kini. Banyak sintaksis populer mewarisi filosofinya tentang tipe data yang kuat. Konsep struktur kontrol yang jelas juga menjadi standar.
Bagi developer saat ini, mempelajari Pascal mungkin tidak langsung berguna untuk pekerjaan komersial. Namun, ia bisa menjadi latihan yang berharga. Seseorang dapat memahami dasar-dasar logika terstruktur tanpa gangguan fitur rumit.
Pascal mengingatkan kita bahwa dampak sebuah bahasa bisa sangat luas. Sebuah alat yang dirancang dengan baik untuk pengajaran dapat membentuk pola pikir jutaan orang. Pengaruhnya bertahan lama meski popularitas langsungnya telah memudar.
Di Indonesia, Pascal mungkin masih ditemukan dalam silabus kuliah ilmu komputer yang tradisional. Namun, tren global jelas menunjukkan pergeseran. Python kini lebih sering dipilih sebagai bahasa pengantar pertama karena keserbagunaannya.
Mempelajarinya tetap memberikan fondasi konseptual yang kokoh. Bagi yang berkecimpung dalam pemeliharaan sistem warisan tertentu, keahlian ini bisa menjadi niche. Pada akhirnya, Pascal telah menyelesaikan misinya sebagai seorang guru yang sabar dan teliti.
6. Bahasa Fungsional “Berotak”: Erlang dan Haskell
Selain alat prosedural dan berorientasi objek, ada paradigma lain yang menghasilkan sintaksis dengan kekuatan dan kompleksitas unik: pemrograman fungsional.
Dua nama yang sering muncul adalah Erlang dan Haskell. Mereka dihormati karena keanggunan konseptual dan kemampuan teknisnya yang mengesankan.
Namun, keduanya berjuang untuk mencapai adopsi arus utama. Mereka lebih seperti ahli teori jenius daripada tools sehari-hari.
Erlang: Sang Ahli Konkurensi untuk Sistem Telekomunikasi
Erlang dikembangkan oleh Ericsson pada pertengahan 1980-an. Tujuannya sangat spesifik: membangun sistem telekomunikasi dengan keandalan ekstrem.
Bahasa ini dirilis ke komunitas open source pada 1998. Ia dirancang untuk toleransi kesalahan dan menangani jutaan proses secara bersamaan.
Kekuatan inilah yang membuatnya menjadi pilihan untuk aplikasi pesan instan. WhatsApp awal, sistem perbankan real-time, dan platform telekomunikasi mengandalkannya.
Ia dikenal karena ketahanan dan konkurensinya yang luar biasa. Namun, sintaksis Erlang terlihat tidak biasa bagi developer modern.
Kurva belajarnya cukup curam. Tugas seperti debugging dan pemeliharaan kode bisa lebih rumit dibandingkan dengan alat baru.
Ini membatasi daya tariknya di luar niche yang sangat spesifik. Bahasa konkuren yang lebih baru, seperti Elixir, berusaha menyederhanakan tugas-tugas ini.
Elixir berjalan di mesin virtual yang sama dengan Erlang (BEAM VM). Ia menawarkan kekuatan serupa dengan sintaksis yang lebih ramah.
Haskell: Elegansi dan Kompleksitas yang Tinggi
Haskell adalah contoh sempurna dari bahasa fungsional murni. Ia terkenal dengan sistem tipe yang sangat kuat dan pendekatan matematisnya.
Dalam Haskell, fungsi tidak memiliki efek samping yang mengubah state. Ini membuat logika program menjadi sangat terprediksi dan elegan secara teori.
Bahasa ini dipuji oleh akademisi dan ahli karena kemampuannya menangkap abstraksi kompleks. Ia adalah laboratorium hidup untuk ide-ide pemrograman lanjutan.
Sayangnya, kompleksitasnya menjadi penghalang utama. Haskell sepertinya tidak pernah membangun komunitas pengguna yang besar dan beragam.
Kurva belajar yang sulit cukup untuk mengusir banyak developer baru. Sifatnya yang sangat abstrak membuatnya kurang cocok untuk penyelesaian masalah praktis sehari-hari.
Kebutuhan industri lebih mengarah pada developer yang dapat menghasilkan kode aplikasi dengan cepat. Haskell seringkali bukan pilihan pertama untuk proyek bisnis umum.
Lalu, apakah kedua bahasa ini sudah “mati”? Sama sekali tidak. Mereka memiliki komunitas penggemar yang kecil namun sangat bersemangat dan setia.
Penurunan relatif mereka lebih disebabkan oleh persaingan. Bahasa fungsional yang lebih mudah didekati, seperti Scala atau F#, menawarkan jalan tengah.
Keahlian dalam Erlang atau Haskell masih sangat dihargai di perusahaan tertentu. Sektor fintech atau penelitian komputasi yang mengandalkan teknologi intinya masih membutuhkannya.
Bagi developer di Indonesia yang tertarik pada konsep lanjutan, mempelajarinya bisa menjadi pengalaman yang sangat memperkaya.
Namun, untuk mencari pekerjaan umum di pasar lokal, mungkin bukan investasi waktu yang paling strategis. Pilihan yang lebih luas seperti Java, Python, atau JavaScript tetap lebih aman.
Erlang dan Haskell mengajarkan bahwa kekuatan teknis tertinggi tidak selalu menjamin popularitas. Kemudahan penggunaan dan ekosistem yang ramah sering kali lebih menentukan nasib sebuah alat development.
7. ActionScript & Lainnya: Korban Perkembangan Teknologi Web
Ada masa di mana hampir semua video online dan game browser bergantung pada satu platform yang kini telah punah. Platform itu adalah Adobe Flash, dan jantungnya adalah sebuah bahasa scripting bernama ActionScript.
ActionScript mendefinisikan era konten web interaktif. Di akhir 1990-an dan 2000-an, untuk membuat animasi, game, atau pemutar video, Flash adalah jawabannya.
Game populer seperti FarmVille dan banyak iklan banner dibuat dengan teknologi ini. Bahkan seluruh situs web dibangun menggunakan antarmuka kaya dari Flash.
Keputusan Apple pada 2010 menjadi pukulan telak. Mereka menolak mendukung Flash di iPhone, perangkat yang mengubah masa depan internet menjadi mobile.
Adobe sendiri akhirnya mengakhiri dukungan untuk Flash pada tahun 2020. Keputusan ini secara efektif mematikan ActionScript sebagai skill yang dicari untuk proyek baru.
Kematian ActionScript adalah contoh nyata. Sebuah programming language bisa punah ketika platform dasarnya ditinggalkan.
Ini terutama riskan jika teknologi tersebut bersifat proprietary dan tertutup. Pengganti utamanya adalah standar web terbuka: HTML5, CSS3, dan JavaScript modern.
Standar baru ini menawarkan kemampuan serupa tanpa memerlukan plugin. Dukungannya untuk perangkat mobile juga jauh lebih baik dan terintegrasi.
ActionScript bukan satu-satunya korban. ColdFusion, sebuah bahasa untuk pengembangan aplikasi web cepat, juga berjuang.
Dulu populer, kini ia kalah bersaing dengan framework web modern yang lebih dinamis. FORTRAN, andalan komputasi ilmiah, menghadapi nasib serupa.
Ia sebagian besar telah digantikan oleh alat dengan fitur dan dukungan komunitas yang lebih kuat. Pergeseran ini menyoroti tren penting dalam industri.
Kekuatan telah beralih dari plugin tertutup ke standar terbuka yang didukung semua browser. Bagi para developer, ini membawa pelajaran berharga.
| Era Flash & ActionScript | Era HTML5 & JavaScript Modern |
|---|---|
| Teknologi: Plugin proprietary (Adobe Flash Player). | Teknologi: Standar web terbuka (W3C). |
| Bahasa Utama: ActionScript (terikat pada Flash). | Bahasa Utama: JavaScript (berjalan native di browser). |
| Dukungan Mobile: Buruk, tidak didukung iOS. | Dukungan Mobile: Sangat baik, dioptimalkan untuk semua perangkat. |
| Keamanan: Rentan terhadap eksploitasi, sering menjadi target serangan. | Keamanan: Model keamanan browser yang lebih ketat dan terus diperbarui. |
| Ekosistem: Tertutup, bergantung pada satu vendor (Adobe). | Ekosistem: Terbuka, didukung oleh komunitas global dan banyak vendor. |
| Kemudahan Akses: Memerlukan instalasi plugin oleh pengguna. | Kemudahan Akses: Konten langsung dapat diakses tanpa instalasi tambahan. |
| Masa Depan: Dihentikan, hanya relevan untuk sistem warisan. | Masa Depan: Berkembang aktif, fondasi untuk aplikasi web progresif (PWA). |
Menginvestasikan waktu secara mendalam dalam teknologi satu vendor memiliki risiko tinggi. Ketika vendor tersebut mengubah arah, skill kita bisa tiba-tiba kurang relevan.
Developer yang dulu spesialis di ActionScript harus bertransisi. Mereka perlu mempelajari skill modern seperti JavaScript dan framework terkini.
Namun, keahlian lama mereka masih berguna dalam konteks tertentu. Tugas memelihara aplikasi warisan internal masih membutuhkan pengetahuan tentang Flash.
Memahami sejarah ini membantu kita menghargai evolusi platform web. Membangun di atas fondasi yang berkelanjutan dan terbuka adalah strategi karir yang lebih aman.
Bagi dunia pengembangan software, ini adalah pengingat. Kecepatan perubahan tech bisa meninggalkan alat yang hebat di masa lalu, tetapi juga membuka pintu untuk inovasi yang lebih baik.
Kesimpulan
Memahami naik turunnya popularitas alat development adalah kunci untuk karir yang tangguh di dunia tech.
Seperti yang kita lihat, lanskap ini sangat dinamis. Kebutuhan baru dan preferensi developer terus menggeser alat yang dominan.
Bahasa-bahasa lawas masih punya peran vital dalam sistem warisan. Ini membuka peluang karir spesialis yang unik.
Bagi kamu di Indonesia, kuncinya adalah keseimbangan. Fokuslah pada sintaksis modern seperti Python atau JavaScript.
Namun, tetaplah sadar akan ekosistem lama yang mungkin membutuhkan keahlianmu. Kemampuan beradaptasi lebih penting daripada menguasai satu alat saja.
Dengan memantau tren dan prinsip dasar yang kuat, kamu bisa membangun karir yang berkelanjutan.




