Site icon ICMI Sleman

Bambang Patijaya: Biodiesel dan Bioetanol Sebagai Fondasi Kemandirian Energi Nasional

Ketua Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mencapai kemandirian energi melalui pengembangan bahan bakar nabati, dengan fokus pada biodiesel dan bioetanol.

Bambang menjelaskan bahwa implementasi biodiesel di tanah air telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Saat ini, program biodiesel mandatori telah mencapai level B40, dan direncanakan untuk meningkat menjadi B50 pada Juli 2026. Kebijakan ini merupakan langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, terutama solar.

“Keberhasilan program biodiesel menunjukkan bahwa Indonesia memiliki landasan yang kuat untuk membangun kemandirian energi berbasis sumber daya lokal. Hal ini perlu terus diperkuat dan dioptimalkan,” jelas Bambang dalam keterangannya pada Selasa, 7 April 2026.

Ia juga menyoroti bahwa Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi minyak sawit mentah (CPO) yang mencapai lebih dari 45 juta ton per tahun. Dengan kapasitas ini, Indonesia dianggap mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel secara berkelanjutan, bahkan seiring dengan peningkatan mandatori yang direncanakan di masa depan.

Selain biodiesel, Bambang juga menekankan potensi besar dari pengembangan bioetanol sebagai pengganti bensin. Indonesia memiliki banyak sumber bahan baku untuk bioetanol, seperti tebu, singkong, dan jagung, yang dapat dioptimalkan melalui penguatan ekosistem industri bioenergi nasional.

“Pengembangan bioetanol harus menjadi agenda strategis selanjutnya. Dengan banyaknya bahan baku yang tersedia, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan impor bensin secara bertahap,” tambahnya.

Namun, Bambang mengingatkan bahwa pengembangan bioenergi harus dilakukan secara terukur dan terintegrasi, agar tidak mengganggu ketahanan pangan serta kebutuhan bahan baku industri lainnya.

“Pemerintah perlu memastikan adanya keseimbangan antara kebutuhan energi, pangan, dan industri. Hal ini penting agar program bioenergi tidak menimbulkan tekanan terhadap harga pangan atau pasokan domestik,” tegasnya.

Ia berpendapat bahwa dengan perencanaan yang matang, Indonesia memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan biodiesel dan bioetanol tanpa mengorbankan sektor lain. Ini dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas, optimalisasi lahan, serta pemanfaatan bahan baku alternatif yang tidak bersaing langsung dengan pangan.

Lebih jauh, Bambang mendorong pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan regulasi yang mendukung, termasuk insentif bagi investasi di sektor bioenergi, guna memperkuat ekosistem hilirisasi energi berbasis domestik.

Exit mobile version