Site icon ICMI Sleman

DPR Dorong Polisi Proaktif Selidiki Kasus Keracunan MBG Tanpa Menunggu Laporan Resmi

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengungkapkan pentingnya keterlibatan aktif pihak kepolisian dalam menyelidiki kasus keracunan yang terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menekankan bahwa tidak seharusnya polisi menunggu laporan dari masyarakat untuk memulai penyelidikan terkait keracunan MBG.

“Harapan saya, aparat penegak hukum bisa lebih proaktif, tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat,” ungkap Charles saat memberikan keterangan di Gedung DPR, Jakarta Pusat, pada Senin, 14 September 2026.

Lebih lanjut, Charles menyampaikan bahwa sejumlah masyarakat telah mengambil langkah hukum dengan melaporkan insiden keracunan MBG kepada pihak kepolisian.

“Sebagai contoh, di Sumatera Utara, tepatnya di Karo, keluarga salah satu korban telah mengajukan laporan kepada kepolisian. Jika saya tidak keliru, di Toraja juga sudah ada laporan serupa,” jelasnya.

Namun, dia tetap mendorong agar kepolisian mengambil inisiatif untuk mengusut kasus keracunan MBG, bahkan jika belum ada laporan resmi dari masyarakat.

“Saya percaya, aparat penegak hukum seharusnya bisa bertindak secara mandiri. Mengingat, ini bukanlah delik aduan,” tegasnya.

“Dengan demikian, pihak aparat penegak hukum dapat melaksanakan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang berhubungan, termasuk SPPG dan Badan Gizi Nasional,” tambah Charles.

Dia berpendapat, pengusutan terhadap insiden keracunan MBG sangat penting untuk memastikan keadilan bagi para korban. Selain itu, penyelesaian melalui jalur hukum diharapkan bisa memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kasus serupa.

“Sebagai catatan, hingga saat ini, lebih dari 53.000 orang telah menjadi korban keracunan. Data ini diperoleh dari surveilans Kementerian Kesehatan, dan bisa dipastikan valid karena diambil dari dinas kesehatan di berbagai daerah,” ujarnya.

“Jika kita melihat data yang saya baca, ternyata kasus ini tidak hanya terjadi di bulan Agustus, tetapi hampir setiap bulan angka tersebut cenderung sama, berkisar antara 3.000 hingga 5.000 kasus,” pungkas Charles.

tvOnenews.com/Syifa Aulia

Exit mobile version