Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa meskipun pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran menjadi korban serangan brutal dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, hal ini tidak akan menggoyahkan kekuatan Republik Islam Iran.
Menurut Boroujerdi, negara Iran dikenal sebagai entitas yang “kuat” dan “bersejarah”, yang tidak akan runtuh hanya karena serangan teroris. Sebaliknya, ia mengkritik AS dan Israel, menyebut tindakan mereka sebagai kesalahan besar yang dapat berdampak negatif bagi mereka sendiri.
“Mereka yang berkeyakinan bahwa dengan melakukan teror dan menghilangkan nyawa beberapa pejabat akan menyebabkan runtuhnya sistem ini, jelas keliru,” tegas Boroujerdi dalam sebuah konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 2 Maret 2026.
Setelah kematian Ali Khamenei yang dikonfirmasi akibat serangan pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, Boroujerdi menyatakan bahwa pemerintah Iran telah segera menunjuk pemimpin baru dalam waktu singkat.
“Republik Islam Iran adalah sebuah pemerintahan yang stabil dan terstruktur, berbeda dengan beberapa rezim penjajah yang ada di kawasan,” jelasnya dengan tegas.
Boroujerdi menjelaskan bahwa sesuai dengan konstitusi Iran, jika seorang pemimpin tidak dapat melanjutkan tugasnya — baik karena meninggal dunia, terbunuh, sakit, atau diberhentikan — maka kepemimpinan negara akan dialihkan kepada Dewan Kepemimpinan Sementara.
Mengacu pada ketentuan konstitusi Iran, saat ini kepemimpinan sementara dipegang oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Mohseni Eje’i, dan salah satu ulama Dewan Garda, Ayatullah A’rafi. “Dewan sementara ini akan menjalankan tugasnya hingga Majelis Ahli Kepemimpinan yang dipilih oleh rakyat dapat bertemu dan memilih pemimpin baru,” ungkapnya.
Diketahui bahwa serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu merupakan serangan kedua setelah insiden serupa yang terjadi pada Juni 2025.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa pasukan Amerika melakukan operasi militer besar-besaran di Iran dengan tujuan melindungi rakyatnya dari apa yang ia sebut sebagai ancaman yang timbul dari dugaan program pengembangan senjata nuklir Iran.
Berdasarkan laporan dari bulan sabit merah Iran, jumlah korban yang tewas akibat serangan udara AS dan Israel sejak 28 Februari meningkat menjadi 555 orang, menunjukkan dampak serius dari tindakan militer tersebut.

