Site icon ICMI Sleman

Fenomena Shrinkflation di Supermarket: Harga Stabil, Namun Isi Produk Berkurang

Fenomena shrinkflation kini semakin terasa di kalangan konsumen, terutama untuk produk sehari-hari seperti kopi instan, sampo, dan deterjen. Situasi ini merujuk pada kondisi di mana ukuran atau jumlah produk diperkecil, sementara harga tetap tidak berubah atau bahkan meningkat. Akibatnya, konsumen sering kali tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya membayar lebih untuk barang yang lebih sedikit.

Data yang dirilis oleh Departemen Statistik Singapura (Singstat) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, kurang dari 5 persen barang yang biasa dibeli oleh rumah tangga mengalami shrinkflation. Meskipun persentasenya terbilang kecil, produk-produk yang sering dibeli justru menjadi yang paling terkena dampak.

Analisis dari data barcode di supermarket besar mengidentifikasi delapan kategori produk fast-moving consumer goods (FMCG) yang paling sering mengalami shrinkflation. Kategori tersebut meliputi sereal, kopi instan atau teh, sampo, deterjen pakaian, jus buah dan sayuran, es krim, susu bubuk, serta popok.

Singstat secara rutin memantau sekitar 3.000 produk untuk menyusun Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan. Mereka juga mencatat bahwa pola yang sama terlihat di berbagai negara lain di seluruh dunia.

Shrinkflation menjadi strategi produsen untuk mengurangi biaya produksi tanpa harus menaikkan harga yang tertera pada kemasan. Hal ini menyebabkan banyak konsumen tidak menyadari adanya kenaikan harga yang tersembunyi, yang dapat merugikan daya beli mereka.

Salah satu konsumen mengungkapkan bahwa ia biasanya hanya memperhatikan harga yang tertera pada label saat berbelanja. Ia memberikan contoh, sebelumnya ia rutin membeli deterjen merek tertentu, tetapi setelah harganya melonjak menjadi 18 dolar Singapura atau sekitar Rp230 ribuan per botol, ia memilih untuk beralih ke merek lain yang lebih terjangkau, sekitar 5 dolar Singapura atau setara Rp67 ribuan.

Namun, untuk kebutuhan pokok seperti minyak zaitun extra virgin dan minyak dedak padi, ia tetap memilih merek yang sama meskipun harga mengalami kenaikan.

Salah satu bentuk shrinkflation yang paling umum terjadi adalah ketika harga produk tetap sama, tetapi ukuran produk diperkecil. Sebagai contoh, sebotol sampo berkapasitas 1 liter dijual seharga 8 dolar Singapura atau sekitar Rp105 ribuan.

Jika produsen memutuskan untuk mengurangi ukuran menjadi 0,8 liter tetapi tetap membanderolnya dengan harga 8 dolar Singapura, maka harga per liter akan melonjak menjadi 10 dolar Singapura atau sekitar Rp135 ribu. Ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan harga satuan sebesar 25 persen, meskipun label harga di kemasan tetap tidak berubah.

Exit mobile version