Site icon ICMI Sleman

Filsuf Terkenal Jerman Jurgen Habermas Meninggal Dunia pada Usia 93 Tahun

Filsuf dan sosiolog terkemuka dari Jerman, Jurgen Habermas, telah meninggal dunia pada usia 93 tahun. Kabar duka ini disampaikan oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag. Habermas meninggal pada hari Sabtu, 14 Maret 2026, di Starnberg, yang terletak dekat dengan Munich.

Habermas diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Jerman pascaperang. Ia banyak menulis tentang berbagai tema, termasuk teori sosial, demokrasi, dan supremasi hukum. Salah satu gagasan terkenalnya adalah pentingnya pembentukan konsensus politik melalui dialog publik yang inklusif.

Dalam perjalanan karir akademiknya yang menginjak lebih dari tujuh dekade, Habermas diakui sebagai salah satu filsuf utama abad ke-20. Pemikirannya memberikan kontribusi signifikan terhadap diskusi mengenai integrasi Eropa dan pembentukan Uni Eropa yang lebih solid.

Pengaruh Habermas tidak hanya terbatas pada ranah akademis, namun juga merambah ke dunia politik. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang berasal dari Uni Demokrat Kristen, menyebutnya sebagai salah satu pemikir paling penting di era modern ini.

“Ketajaman analisisnya telah membentuk wacana demokrasi yang melampaui batas negara kita dan berfungsi sebagai panduan di tengah ketidakpastian,” ungkap Merz dalam sebuah pernyataan. “Suaranya akan sangat dirindukan.”

Habermas meyakini bahwa pembentukan opini publik merupakan landasan penting bagi keberlangsungan demokrasi. Keyakinan ini mendorongnya untuk terus aktif menulis buku dan artikel hingga usia lanjut.

Dalam wawancara yang diterbitkan oleh The Guardian pada tahun 2015, ia sempat mengkritik kebijakan Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel, yang dianggapnya “mempertaruhkan” reputasi Jerman setelah perang melalui tindakan pemerintahnya dalam menangani krisis utang Yunani.

Di tahun-tahun terakhir kehidupannya, beberapa pendapatnya memicu perdebatan di kalangan generasi intelektual muda. Pada tahun 2022, ia mengemukakan kritik terhadap Menteri Luar Negeri Jerman dari Partai Hijau, Annalena Baerbock, terkait pernyataan yang dinilai terlalu agresif mengenai konflik yang terjadi di Ukraina.

Pernyataannya yang menyatakan bahwa perang Israel di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober “secara prinsip dibenarkan” juga mendapatkan sorotan tajam dari sejumlah filsuf yang mengikuti aliran “teori kritis” dari Sekolah Frankfurt.

Karya terakhirnya, berjudul “Things Needed to Get Better”, diterbitkan pada bulan Desember tahun lalu. Dalam buku ini, Habermas menekankan penolakannya untuk membiarkan sikap pesimis menguasai pandangannya, serta keyakinannya bahwa tantangan yang ada saat ini masih dapat diatasi.

Lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf dari keluarga borjuis, Habermas menjalani dua kali operasi sejak bayi untuk mengatasi masalah langit-langit mulut sumbing yang berdampak pada kemampuan bicaranya. Keadaan ini seringkali dianggap sebagai faktor yang membentuk minat intelektualnya terhadap teori komunikasi.

Exit mobile version