Site icon ICMI Sleman

Glaukoma: Penyakit Mata yang Mengancam Penglihatan dan Potensi Kebutaan

Penyakit mata sering kali berkembang lambat tanpa disadari, menghasilkan dampak serius terhadap penglihatan. Salah satu kondisi yang sering terabaikan adalah glaukoma, sebuah penyakit pada saraf mata yang berpotensi menyebabkan kebutaan permanen jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.

Glaukoma sering disebut sebagai “silent thief of sight” atau pencuri penglihatan yang bergerak diam-diam, karena gejalanya tidak terlihat pada fase awal. Mari kita gali lebih dalam mengenai kondisi ini dan pentingnya kesadaran akan glaukoma.

Menurut Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), seorang dokter mata subspesialis glaukoma di JEC Group, glaukoma adalah penyakit progresif pada saraf mata yang dapat mengakibatkan kerusakan saraf optik secara perlahan. Salah satu penyebab utama dari kondisi ini adalah peningkatan tekanan intraokular.

Dalam keadaan normal, tekanan di dalam bola mata berkisar antara 10 hingga 21 mmHg. Namun, saat tekanan tersebut meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap. Hal ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang yang, jika dibiarkan, dapat mengakibatkan kebutaan yang tidak dapat disembuhkan.

“Kondisi ini dapat menimpa siapa saja, meskipun individu yang berusia di atas 40 tahun lebih berisiko mengalami glaukoma,” ungkap Dr. Zeiras dalam acara Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini.

Secara global, glaukoma menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kebutaan setelah katarak. Di Indonesia, prevalensi glaukoma diperkirakan mencapai sekitar 0,46 persen, atau sekitar 4 hingga 5 orang dari setiap 1.000 penduduk, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2023. Di negara-negara berkembang, diperkirakan 80 hingga 90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis, karena banyak kasus yang berkembang tanpa keluhan di fase awal.

Dr. Zeiras menjelaskan bahwa sebagian besar pasien tidak menyadari adanya gangguan pada tahap awal penyakit. Glaukoma tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada bayi dengan glaukoma bawaan, dengan angka kejadian sekitar 1 dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran menurut American Academy of Ophthalmology (2025). Sementara itu, pada orang dewasa, penyakit ini sering kali berkembang tanpa gejala hingga mencapai tahap lanjut.

Oleh karena itu, Dr. Zeiras menekankan pentingnya deteksi dini. “Glaukoma sering disebut sebagai pencuri penglihatan yang bergerak diam-diam, karena kerusakan pada saraf optik berlangsung perlahan tanpa adanya gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya telah menyempit,” jelasnya.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang glaukoma, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin, terutama bagi mereka yang berada dalam kelompok berisiko. Deteksi dini dapat menjadi kunci untuk mencegah terjadinya kebutaan akibat glaukoma, menjadikan kesehatan mata sebagai prioritas utama.

Exit mobile version