Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan pada perdagangan hari Senin, 12 Oktober 2026. Faktor-faktor baik dari sentimen global maupun domestik berkontribusi terhadap penurunan hampir 2 persen, sehingga IHSG terjatuh di bawah level 6.000 pada akhir sesi perdagangan pertama.
Elandry Pratama, seorang pengamat pasar modal, menjelaskan bahwa penurunan ini tidak terlepas dari berbagai faktor yang memengaruhi keputusan investor. Dari kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat hingga kondisi nilai tukar rupiah dan aliran dana asing, semuanya berperan dalam dinamika pasar saham saat ini.
“Penurunan IHSG yang kita saksikan hari ini harus dilihat sebagai hasil dari interaksi antara sentimen eksternal dan domestik,” jelas Elandry di Jakarta, Senin.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa IHSG terkoreksi sebesar 117,98 poin atau 1,94 persen, menutup sesi I pada angka 5.975,78. Penurunan tersebut mencerminkan adanya tekanan jual yang meningkat di pasar saham, di tengah sikap hati-hati yang ditunjukkan oleh para investor.
Dari perspektif global, pelaku pasar tetap memperhatikan arah kebijakan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Federal Reserve. Selain itu, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga menjadi sorotan, karena hal tersebut dapat memengaruhi aliran modal dan minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Risiko geopolitik juga berperan dalam meningkatkan volatilitas di pasar keuangan. Ketidakpastian yang terjadi di kancah internasional membuat investor lebih berhati-hati dan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan investasi.
Di sisi domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kemungkinan adanya aksi jual bersih dari investor asing juga berkontribusi pada terbatasnya pergerakan IHSG. “Kondisi ini menyebabkan investor menjadi lebih waspada dan mengurangi risk appetite terhadap aset-aset berisiko,” tambahnya.
Kombinasi dari berbagai faktor ini membuat arah pergerakan pasar saham masih rentan terhadap perubahan sentimen. Penting bagi investor untuk terus memantau perkembangan nilai tukar dan arus dana asing guna menentukan apakah tekanan jual akan berlanjut atau mulai mereda.
Dalam jangka pendek, Elandry memperkirakan IHSG masih memiliki potensi untuk mengalami koreksi lebih lanjut. Risiko ini terutama terlihat jika aksi jual dari investor asing belum mereda dan indeks belum berhasil membentuk area support yang solid.

