Mitchel Bakker, pemain yang memiliki darah Indonesia, kini resmi bergabung dengan NEC Nijmegen setelah menanti cukup lama tanpa klub.
Kepindahan ini kembali mengangkat isu mengenai kemungkinan ia untuk dinaturalisasi guna memperkuat Timnas Indonesia.
NEC Nijmegen mengumumkan perekrutan Mitchel Bakker pada Kamis, 8 Oktober 2026, waktu setempat, menandakan langkah baru dalam kariernya.
Pemain berusia 26 tahun tersebut mendapatkan kontrak selama satu musim hingga musim panas 2027, dengan opsi perpanjangan selama satu tahun ke depannya.
Kepastian tersebut mengakhiri masa bebas transfer yang dijalani Bakker selama lebih dari sebulan.
Sebelumnya, ia berstatus sebagai pemain tanpa klub setelah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri kontraknya dengan Atalanta pada 1 September 2026.
Sebelum resmi diperkenalkan, Bakker menjalani masa percobaan di NEC Nijmegen.
Selama masa percobaan, ia berlatih dengan tim di Estepona, Spanyol, sebelum kembali ke Belanda untuk melanjutkan sesi latihan.
Penampilan impresif selama latihan tersebut berhasil meyakinkan manajemen NEC untuk memberikan kontrak kepadanya.
Bakker, yang dikenal sebagai pemain berkaki kiri, kini akan mengenakan nomor punggung lima saat bermain untuk NEC Nijmegen.
Kehadirannya di tim jelas menjadi aset berharga bagi NEC Nijmegen yang berkompetisi di liga tertinggi Belanda, Eredivisie.
Dengan postur tinggi 189 sentimeter, Bakker membawa pengalaman berharga dari berbagai klub besar Eropa.
Ia memulai kariernya di akademi Ajax Amsterdam sebelum bergabung dengan Paris Saint-Germain pada tahun 2019.
Setelah itu, ia juga memperkuat Bayer Leverkusen, Atalanta, dan Lille, di mana ia berpengalaman bermain di kompetisi elit Eropa.
Menariknya, NEC Nijmegen bukanlah klub yang asing bagi penggemar sepak bola Indonesia, karena sebelumnya menjadi tempat bagi Calvin Verdonk.
Bek kiri Timnas Indonesia tersebut telah menghabiskan lebih dari lima musim di NEC sebelum pindah ke Lille pada September 2025.
Kepindahan Bakker ke NEC Nijmegen menghidupkan kembali diskusi mengenai kemungkinan ia membela Timnas Indonesia.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pemain berusia 26 tahun itu sebelumnya pernah dihubungkan dengan proyek naturalisasi oleh PSSI, mengingat keturunan Indonesia yang dimilikinya.
Namun, harapan untuk melihat Bakker memakai seragam Garuda masih menghadapi tantangan besar terkait regulasi yang ditetapkan oleh FIFA.
Masalah utama bukan terletak pada kemampuan atau klub yang diwakilinya, tetapi pada keabsahan garis keturunan yang dimiliki oleh sang pemain.

