Site icon ICMI Sleman

Partai Kanan Ekstrem Eropa Mengurangi Dukungan terhadap Israel Akibat Perang Iran

Sejumlah partai kanan ekstrem di Eropa tampaknya mulai menjauh dari dukungan terhadap Israel, seiring dengan meningkatnya kritik dari publik, terutama di kalangan pemilih muda, terhadap kebijakan yang diterapkan oleh negara tersebut.

Pakar politik internasional, Shaiel Ben-Ephraim, mengamati bahwa perubahan ini terlihat dalam sikap beberapa partai kanan ekstrem terhadap Israel serta dalam kebijakan luar negeri Uni Eropa yang berubah belakangan ini.

Sebagai contoh, di Bulgaria, partai kanan ekstrem dilaporkan kehilangan suara pemilih karena respons mereka terhadap tindakan Israel di Gaza yang tidak mendapat dukungan dari publik.

Ben-Ephraim menyatakan bahwa meskipun tokoh-tokoh seperti Geert Wilders di Belanda mungkin tidak akan mengubah pandangan secara drastis, tren global menunjukkan bahwa generasi muda semakin kritis terhadap Israel.

Ia berpendapat bahwa serangan Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran, serta meningkatnya narasi antisemitisme di media sosial, membuat pemilih muda semakin enggan mendukung sikap pro-Israel yang selama ini dipegang oleh partai-partai kanan ekstrem, khususnya di Eropa Timur.

“Tren jangka panjang di kalangan sayap kanan Eropa menunjukkan pergeseran ke posisi yang lebih kritis terhadap Israel, sejalan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat global,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Anadolu pada Selasa, 21 April 2026.

Ben-Ephraim menambahkan bahwa hubungan antara Israel dan partai-partai kanan ekstrem di Eropa selama ini banyak ditopang oleh sentimen anti-Islam dan penolakan terhadap imigran Muslim, yang menurutnya menjadikan dasar hubungan ini cukup rapuh.

Ia mencatat bahwa pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah berupaya keras untuk memperkuat hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut, meskipun strategi tersebut belum menunjukkan hasil yang diharapkan secara luas.

Menurut Ben-Ephraim, Israel kemungkinan akan tetap mempertahankan hubungannya dengan partai-partai kanan ekstrem, karena pengakuan atas kegagalan strategi tersebut dapat menjadi kerugian besar bagi kebijakan luar negeri Israel.

Ia juga mencatat bahwa stigma dalam menjalin hubungan dengan partai-partai yang memiliki latar belakang kontroversial, termasuk yang terkait dengan masa lalu Nazi, kini mulai diabaikan dalam upaya memperkuat hubungan politik.

Ben-Ephraim mencermati bahwa tren global, termasuk di Amerika Serikat, menunjukkan pergeseran opini publik yang semakin kritis terhadap Israel, terutama di kalangan generasi di bawah usia 50 tahun. Dengan perubahan ini, ia memprediksi bahwa partai-partai kanan ekstrem di Eropa akan semakin menjauh dari Israel jika dukungan pemilih terus merosot sehubungan dengan isu tersebut.

Exit mobile version