Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke motor listrik telah membawa dampak signifikan terhadap pengeluaran operasional. Dengan tidak lagi menggunakan bensin, motor listrik menawarkan biaya energi yang lebih rendah dalam berbagai penggunaan, sehingga membantu mengurangi beban biaya mobilitas.
Contoh konkret dari perubahan ini dapat dilihat pada Pos Indonesia, yang mulai menggunakan kendaraan listrik untuk mendukung aktivitas kurir pada tahun 2023. Fernanda Windy Rahmanto, Vice President Operasional Kurir Pos Indonesia, mengungkapkan bahwa biaya energi untuk setiap kurir sebelumnya mencapai sekitar Rp750 ribu per bulan saat menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil.
“Dari segi efisiensi, jelas lebih hemat. Jika kami menggunakan bahan bakar fosil, pengeluaran kami dalam satu bulan adalah sekitar Rp750.000. Namun, dengan kendaraan listrik, biaya yang dikeluarkan setiap kurir hanya sekitar Rp250.000 per bulan,” ujarnya, sebagaimana dilaporkan pada 14 Agustus 2026.
Dengan angka tersebut, terlihat bahwa pengeluaran energi menurun sekitar Rp500 ribu per bulan atau sekitar 66,7 persen. Jika dihitung dalam setahun, perbedaan pengeluaran ini mencapai sekitar Rp6 juta.
Angka ini mencerminkan pengalaman operasional Pos Indonesia, dan tidak serta merta berlaku untuk semua pengguna motor listrik. Besarnya penghematan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jarak tempuh, pola penggunaan, konsumsi listrik, tarif listrik, serta kondisi kendaraan yang digunakan.
Meski begitu, pengurangan biaya energi dapat mengubah alokasi pengeluaran rumah tangga. Dana yang sebelumnya digunakan untuk membeli bensin kini bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain, seperti makanan, pendidikan, kesehatan, cicilan, atau tabungan.
Badan Pusat Statistik secara rutin mencatat pengeluaran konsumsi rumah tangga melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Data ini memberikan gambaran tentang bagaimana pendapatan masyarakat dialokasikan untuk berbagai kebutuhan dan menjadi salah satu sumber informasi penting dalam merumuskan kebijakan sosial dan ekonomi.
Biaya energi juga menjadi faktor penting dalam daya beli masyarakat, terutama ketika terjadi kenaikan harga. Dalam kajian mengenai dampak kenaikan harga pada tahun 2022, Bank Dunia mencatat bahwa kenaikan harga pangan, BBM, listrik, dan transportasi dapat memberikan tekanan pada daya beli rumah tangga, terutama pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam biaya energi dapat memengaruhi kesehatan keuangan rumah tangga. Ketika pengeluaran energi meningkat, proporsi pendapatan yang tersedia untuk kebutuhan lain pun dapat menyusut.

