Tragedi kecelakaan yang terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada malam hari, 27 April 2026, meninggalkan luka mendalam bagi banyak pihak. Insiden yang melibatkan KRL Commuter Line Cikarang Line dan KA Argo Bromo Anggrek ini dilaporkan mengakibatkan 16 orang kehilangan nyawa hingga berita ini dirilis pada 29 April 2026.
Saat ini, berbagai spekulasi mengenai penyebab kecelakaan tersebut mulai bermunculan. Salah satunya berasal dari kesaksian asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek, yang mengungkapkan adanya kejanggalan pada sistem sinyal sebelum terjadinya tabrakan. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, ia menyatakan bahwa terdapat gangguan dalam komunikasi dan kemungkinan adanya kesalahan pada sinyal.
“Sepertinya ada miss komunikasi, tadi sinyalnya mengalami error,” ungkap asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek.
Dia juga menambahkan bahwa perubahan sinyal menjadi merah terjadi dengan cara yang tidak biasa. Menurut prosedur yang berlaku, sinyal seharusnya tidak berubah secara drastis dari hijau menjadi merah tanpa peringatan sebelumnya.
Dalam situasi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek diketahui melaju dengan kecepatan tinggi, sekitar 110 km per jam, sehingga tidak dapat melakukan pengereman secara maksimal sebelum menabrak KRL yang sedang berhenti di jalur.
“Kecepatannya cukup tinggi, mencapai 110 km/jam,” tambahnya.
Insiden ini bermula dari kecelakaan sebelumnya, di mana sebuah KRL lain menabrak sebuah mobil taksi listrik Green SM di perlintasan sebidang di kawasan Bulak Kapal. Akibat kejadian tersebut, perjalanan KRL menjadi terhambat dan berhenti di jalur, sebelum akhirnya dihantam oleh KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang.
Saat ini, proses investigasi masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti dari kecelakaan yang tragis ini.
Di balik insiden tersebut, KA Argo Bromo Anggrek bukanlah sekadar kereta biasa. Kereta ini merupakan salah satu layanan premium dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya melalui jalur utara Pulau Jawa.
Kereta ini melayani rute dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi dengan jarak tempuh sekitar 720 kilometer. Menariknya, waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan ini cukup singkat untuk ukuran kereta konvensional, yaitu sekitar 7 jam 45 menit hingga 8 jam.
Kecepatan inilah yang menjadikan KA Argo Bromo Anggrek diakui sebagai salah satu kereta tercepat di jalur utara. Dalam operasionalnya, kereta ini mampu mencapai kecepatan maksimum hingga 120 km per jam, dan dalam beberapa pengembangan teknologi, kereta ini bahkan disebut mampu melaju lebih tinggi tanpa mengorbankan stabilitas.

