Salmafina Jadi Saksi Ditalak Taqy Malik karena Legging, Inilah Kronologi Lengkapnya

Polemik yang melibatkan Salmafina Sunan dan Taqy Malik kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataan yang dilontarkan oleh Sherel Thalib, istri Taqy saat ini. Isu yang awalnya dianggap sepele—yaitu terkait penggunaan celana legging—kini kembali menjadi perdebatan hangat setelah Sherel menyebutnya sebagai hoax.
Pernyataan ini ternyata memicu reaksi dari Sunan Kalijaga, ayah Salmafina, yang merasa perlu untuk memberikan klarifikasi. Ia mengungkapkan kronologi lengkap mengenai peristiwa yang selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat, dan menegaskan bahwa persoalan legging adalah titik awal dari konflik dalam rumah tangga putrinya. Mari kita simak cerita selengkapnya!
“Saya sebenarnya enggak ingin berbicara. Namun, karena situasi ini perlu klarifikasi, maka saya akan berbicara. Saya bersama keluarga, Salma, istri saya, dan adik Salma, Syahn, saat itu sedang berlibur akhir tahun ke Eropa,” ujar Sunan Kalijaga saat menjelaskan, seperti yang dikutip dari tayangan Youtube pada tanggal 2 April 2026.
Dalam penjelasannya, Sunan menceritakan bahwa perjalanan mereka melibatkan beberapa negara di Eropa, termasuk Swiss yang terkenal dengan salju tebalnya. Di sinilah, menurutnya, insiden yang berujung panjang itu terjadi.
“Mungkin ada yang tidak paham seperti apa keadaan di Swiss, cuacanya, atau seberapa tinggi saljunya,” sindir Sunan kepada pihak yang meragukan penjelasannya.
Pada saat itu, Salmafina berusaha untuk tetap tampil dengan busana syar’i meskipun harus menghadapi cuaca ekstrem. Namun, kondisi salju yang tebal membuatnya sulit untuk bergerak dengan leluasa.
“Salma menyampaikan, ‘Yah, saya ikut liburan tapi saya harus tetap mengenakan baju syar’i’. Saya bilang, ‘Tidak masalah’,” ungkap Sunan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Salmafina akhirnya memutuskan untuk mengenakan legging di balik pakaiannya agar lebih nyaman saat beraktivitas.
“Di situ dia mengganti, bukan mengganti bajunya, tetap mengenakan hijab dan pakaian syar’i, hanya menambah legging,” jelasnya.
Sunan mengungkapkan bahwa tindakan tersebut sebenarnya demi menjaga kenyamanan sekaligus menutup aurat dengan baik.
“Untuk apa? Agar saat dia berjalan, mengangkat kaki, dan melangkah di atas salju Swiss, dia tetap nyaman. Bagi yang paham, Swiss itu saljunya seperti apa, bisa cari di Google,” ucap Sunan.
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman akan konteks ketika berbicara mengenai norma dan kebiasaan berpakaian, terutama dalam situasi yang tidak biasa.
Perdebatan mengenai celana legging ini menjadi lebih kompleks ketika banyak pihak yang berkomentar tanpa mengetahui latar belakang yang sebenarnya. Kebanyakan orang hanya melihat dari satu sisi, tanpa memahami situasi yang dihadapi Salmafina saat itu.
Sunan Kalijaga juga menekankan bahwa setiap orang berhak untuk berpendapat, tetapi sangat penting untuk memelihara empati dan memahami kondisi orang lain sebelum mengeluarkan komentar.
“Jangan sampai kita hanya melihat dari kacamata kita sendiri. Dalam situasi seperti ini, bisa jadi kita tidak tahu apa yang sebenarnya dialami oleh orang lain,” imbuhnya.
Sebagai orang tua, Sunan merasa perlu untuk melindungi putrinya dan menjelaskan kepada publik tentang sudut pandang yang mungkin terlewatkan. Ia berharap dengan penjelasan ini, masyarakat bisa lebih bijaksana dalam menanggapi isu yang berkaitan dengan privasi dan pilihan pribadi.
Isu legging ini bukan hanya sekadar soal pakaian, melainkan juga mencerminkan nilai-nilai yang dianut masing-masing individu. Dalam konteks ini, Sunan mengajak masyarakat untuk lebih terbuka dan saling menghormati pilihan satu sama lain.
“Setiap orang berhak memilih cara berpakaian mereka sesuai dengan keyakinan dan kenyamanan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling menghargai,” tegas Sunan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam penilaian yang dangkal. Penting untuk menggali lebih dalam dan memahami konteks di balik setiap tindakan.
Seiring dengan semakin banyaknya informasi yang beredar, masyarakat diharapkan dapat lebih kritis dalam menyikapi berita dan komentar yang muncul. Mengedukasi diri sendiri tentang isu-isu yang sedang hangat sangatlah penting agar tidak terjebak dalam hoax dan misinformasi.
Dalam dunia yang semakin terhubung ini, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika dalam berkomunikasi. Mari kita ciptakan ruang diskusi yang sehat dan saling menghargai, tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih bijak dalam berpendapat dan memahami sudut pandang orang lain. Kita semua memiliki cerita dan perjalanan masing-masing yang membentuk cara kita berinteraksi dengan dunia.



