Site icon ICMI Sleman

Trump Berencana Menghentikan Operasi Militer di Iran Meski Selat Hormuz Masih Tertutup

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan bersedia untuk menghentikan operasi militer di Iran meskipun Selat Hormuz masih dalam keadaan tertutup. Informasi ini muncul dari pernyataan yang disampaikan kepada para asistennya, menurut laporan yang dikutip oleh Wall Street Journal dari pejabat-pejabat pemerintahan Trump.

Pernyataan ini muncul beberapa hari setelah Trump melontarkan ancaman kepada Iran, menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik negara tersebut jika Teheran tidak mengizinkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Dalam laporan tersebut, Trump mengindikasikan bahwa ia akan menunda operasi militer yang dianggap kompleks untuk membuka kembali jalur sempit yang menyuplai sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, hingga waktu yang dianggap lebih tepat.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa Trump berpendapat misi untuk membuka kembali jalur tersebut dapat memperpanjang konflik lebih lama dari yang diperkirakan, yaitu antara empat hingga enam minggu.

Sumber yang sama melaporkan bahwa Trump percaya Amerika Serikat sebaiknya fokus pada pencapaian tujuan utama, yaitu melemahkan angkatan laut Iran dan persediaan misilnya, sambil mengurangi eskalasi permusuhan. Ia berharap agar Teheran mau kembali ke jalur diplomasi untuk memulihkan perdagangan yang terhambat. Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Washington berencana mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan Teluk untuk mengambil inisiatif dalam membuka kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, merupakan jalur strategis yang vital bagi sekitar 25 persen pasokan minyak global. Iran diketahui telah menutup jalur ini untuk pelayaran, terutama bagi kapal-kapal dari Amerika Serikat dan negara-negara yang mendukung konflik, dan hampir menghentikan transit ratusan kapal setiap hari, termasuk kapal kontainer, kapal kargo curah, dan kapal kargo cair.

Konflik ini dimulai pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi ke seluruh Iran, setelah pembicaraan mengenai program nuklir yang mandek dan tuduhan bahwa Teheran melanjutkan aktivitas nuklirnya. Operasi yang dinamakan Epic Fury tersebut menargetkan berbagai kota di Iran dan mengakibatkan kematian sejumlah pemimpin penting, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan yang banyak merusak wilayah Teluk, termasuk Dubai, Kuwait, Abu Dhabi, Qatar, dan Bahrain.

Exit mobile version