Kesaksian Warga tentang Bambang Setiawan, Korban Tewas di Pejompongan yang Berusia 60 Tahun

Jakarta – Bambang Setiawan, seorang warga berusia 60 tahun, menjadi salah satu korban tewas dalam kerusuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada malam hari tanggal 27 Agustus 2026. Banyak yang meragukan bahwa Bambang terlibat dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI pada saat itu.
Salah satu saksi yang memberikan kesaksian adalah Joni, seorang pemilik kontrakan yang menjalankan usaha toko cermin dan mengenal Bambang dengan baik. Joni menilai bahwa Bambang bukanlah sosok yang biasanya terlibat dalam aksi protes.
“Bagi saya, dia tidak mungkin ikut-ikutan dalam aksi demonstrasi. Di usianya yang sudah 60 tahun, lahir tahun 1966, tidak mungkin dia terjun dalam hal semacam itu,” jelas Joni saat ditemui pada hari Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurut Joni, Bambang dikenal sebagai pribadi yang sangat dekat dengan lingkungan sekitarnya. Dia aktif bersilaturahmi dan sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh warga.
“Almarhum orangnya baik dengan tetangga. Dia selalu aktif menjalin silaturahmi. Tidak ada yang aneh-aneh dari dirinya,” kenang Joni.
Joni menambahkan bahwa Bambang adalah sosok yang mudah bergaul dengan masyarakat. Kehadirannya selalu terlihat, terutama ketika ada tetangga yang mengalami kesulitan atau musibah.
“Kehadirannya sangat terasa. Dia selalu ada ketika ada tetangga yang meninggal atau yang membutuhkan bantuan,” ungkap Joni.
Selain dalam situasi duka, Bambang juga aktif terlibat dalam kegiatan masyarakat. Ia selalu hadir dalam rapat warga dan berbagai acara peringatan, seperti HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Dia selalu terlibat dalam rapat-rapat seperti lomba 17-an, aktif dalam kegiatan lingkungan,” tambahnya.
Joni juga mengingat pertemuan terakhirnya dengan Bambang pada Kamis, 27 Agustus, sebelum kerusuhan terjadi pada malam yang sama.
Pada saat itu, Bambang terlihat berbelanja bersama istrinya, membeli beberapa perlengkapan seperti kompor dan selang kompor. Warga lain yang melihatnya pun sempat bercanda mengenai banyaknya barang belanjaan Bambang.
“Pada hari Kamis itu, dia dan istrinya belanja kompor, selang kompor, dan barang-barang yang diperlukan. Ketika bertemu dengan anak-anak warga, mereka sempat menggoda, ‘Wuih borong nih!’,” cerita Joni.




