kpkgg
berita

Profil dan Rekam Jejak Karir Rocky Gerung, Anggota Wantimpres yang Dilantik oleh Prabowo

Jakarta – Presiden Prabowo baru saja melantik Pratikno sebagai kepala Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Dalam acara tersebut, sebanyak 22 individu lainnya juga resmi menjadi anggota Wantimpres, termasuk di dalamnya Rocky Gerung, yang dikenal sebagai seorang pengamat politik.

Pelantikan Pratikno, Rocky Gerung, dan 22 anggota Wantimpres lainnya didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 106P Tahun 2026 mengenai Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.

Dengan dilantiknya Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres, banyak orang yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang rekam jejak karirnya. Lahir di Manado pada 20 Januari 1959, Rocky Gerung telah menjadi sosok yang cukup terkenal di kalangan publik. Ia sering muncul sebagai narasumber dalam program Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan di tvOne. Rocky memulai pendidikan tinggi di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1979, mengambil jurusan Hubungan Internasional, namun tidak menyelesaikannya. Ia kemudian beralih ke jurusan Ilmu Filsafat. Sebelum terpilih menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Rocky mengawali karirnya sebagai dosen tidak tetap di Departemen Ilmu Filsafat Universitas Indonesia selama sekitar 15 tahun hingga tahun 2015.

Rocky memutuskan untuk berhenti mengajar setelah penetapan UU Nomor 14 Tahun 2005, yang mengharuskan dosen memiliki gelar minimal magister, sementara saat itu ia baru bergelar sarjana. Selama masa mengajarnya di UI, Rocky mengajarkan berbagai mata kuliah, termasuk Filsafat Politik, Teori Keadilan, dan Metode Penelitian Filsafat. Ia juga dikenal sebagai mentor bagi aktris Dian Sastrowardoyo saat menjalani program pascasarjana. Selain mengajar di UI, Rocky turut berkontribusi pada Kajian Filsafat dan Feminisme (KAFFE), program yang diselenggarakan oleh Jurnal Perempuan.

Rocky Gerung juga terlibat dalam pendirian Setara Institute pada tahun 2005, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada riset dan advokasi kebijakan, dengan perhatian khusus pada isu-isu demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme, serta kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.

Di luar dunia akademis, Rocky aktif sebagai pengamat politik, penulis, dan peneliti. Salah satu fokus kajiannya adalah filsafat feminisme. Ia banyak berkontribusi menulis untuk Jurnal Perempuan, sebuah publikasi ilmiah yang dikelola oleh Yayasan Jurnal Perempuan dan didirikan oleh Gadis Arivia, yang juga merupakan rekannya di Universitas Indonesia. Selain itu, Rocky juga berpartisipasi sebagai penulis di Jurnal Prisma yang diterbitkan oleh LP3ES, dengan banyak tulisannya yang membahas isu-isu terkait hak asasi manusia dan Pancasila.

Related Articles

Back to top button