Gibran Terkenal Setelah Prabowo, Namun Kalah Saing dengan KDM di Bursa Cawapres

Peta persaingan untuk calon wakil presiden (cawapres) 2029 menunjukkan dinamika yang mengejutkan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, berhasil menjadi kandidat teratas dalam survei elektabilitas.
Hasil survei terbaru yang dirilis oleh Parameter Politik Indonesia (PPI) pada 12 Oktober 2026, menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi meraih angka elektabilitas yang mencengangkan, yaitu 21 persen, menempatkannya di posisi teratas sebagai calon wakil presiden.
Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menjelaskan bahwa Dedi Mulyadi berhasil mengungguli Wakil Presiden petahana Gibran Rakabuming Raka, yang berada di posisi kedua dengan elektabilitas 14,2 persen.
Meskipun begitu, Adi menambahkan bahwa dalam hal popularitas, Gibran masih jauh lebih dikenal di masyarakat dibandingkan KDM.
“Pengenalan publik terhadap Gibran mencapai 93,8 persen, menempati posisi kedua setelah Prabowo yang mencapai 96,8 persen. Di sisi lain, Dedi Mulyadi berada di angka 84,3 persen,” ungkap Adi dalam acara peluncuran Survei Nasional Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ternyata, dikenal saja tidak cukup untuk meraih dukungan suara yang signifikan.
Di bawah Dedi dan Gibran, persaingan semakin ketat. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Anies Baswedan hampir berimbang, masing-masing mendapatkan dukungan 7,1 persen dan 7 persen.
Selanjutnya, di posisi tengah ada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang meraih 4,8 persen, diikuti Mahfud MD dengan 4,4 persen, Sherly Tjoanda 3,2 persen, dan Ahok 3,1 persen.
Sementara itu, nama-nama besar lainnya seperti Ganjar Pranowo hanya memperoleh 2,6 persen, Teddy Indra Wijaya 1,4 persen, serta Cak Imin dan Kaesang Pangarep masing-masing 0,9 persen.
Yang lebih mengejutkan, sejumlah artis terkenal seperti Raffi Ahmad, Erick Thohir, dan Susi Pudjiastuti, hanya mendapatkan dukungan antara 0,1 hingga 0,8 persen.
PPI juga mencatat bahwa masih terdapat 20,8 persen responden yang belum membuat pilihan, serta 3,5 persen memilih nama lain. Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 1.200 responden di 38 provinsi.
Fenomena yang ditunjukkan oleh Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa gaya blusukan dan pendekatan populis yang diterapkannya di Jawa Barat ternyata efektif dalam konteks nasional. Sementara Gibran, walaupun terkenal, masih perlu berjuang untuk mengonversi popularitasnya menjadi elektabilitas yang lebih kuat.




