Iran Tegaskan Siap Hadapi Ancaman Perang dengan AS dan Kebodohan yang Muncul

Pejabat tinggi militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, mengungkapkan bahwa kemungkinan terjadinya kembali konflik antara Iran dan Amerika Serikat sangat besar. Hal ini merujuk pada pernyataan Presiden Donald Trump yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap tawaran negosiasi terbaru dari pihak Iran.
“Potensi terjadinya konflik baru antara Iran dan AS sangat mungkin,” ujarnya, seperti dilaporkan oleh NDTV pada Senin, 4 Mei 2026.
Asadi berpendapat bahwa tindakan dan pernyataan terbaru dari pejabat AS tampaknya lebih ditujukan untuk mengalihkan perhatian dari kekacauan yang mereka timbulkan sendiri.
“Pernyataan dan langkah-langkah yang diambil oleh pejabat AS umumnya dipicu oleh kepentingan media. Ini dilakukan untuk mencegah penurunan harga minyak dan juga untuk mencari jalan keluar dari masalah yang mereka ciptakan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siap sedia jika Amerika Serikat memilih untuk meningkatkan ketegangan.
“Militer kami sepenuhnya siap untuk menghadapi tindakan sembrono atau petualangan baru dari pihak Amerika,” tegas Asadi.
Pernyataan Trump yang terkenal, “Hancurkan mereka,” mencuat dalam konteks ini.
Setelah Iran menyerahkan draf baru kepada mediator Pakistan pada Kamis malam, Trump mengajukan pertanyaan kepada wartawan mengenai kemungkinan perang.
“Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka sepenuhnya dan mengakhiri segalanya, atau kita ingin mencoba mencapai kesepakatan?” tanya Trump.
Namun, Trump kemudian menyatakan bahwa ia lebih memilih untuk tidak mengambil opsi yang pertama demi alasan kemanusiaan.
Di sisi lain, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, pada hari Jumat mengungkapkan bahwa negaranya tidak pernah menghindar dari upaya negosiasi, namun juga tidak akan menerima pemaksaan dalam hal syarat-syarat perdamaian.
Iran tetap memegang kendali yang ketat atas Selat Hormuz, situasi ini mempengaruhi aliran minyak, gas, dan pupuk yang signifikan ke pasar global. Sementara itu, Amerika Serikat juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai balasan.
Sebelumnya, Trump bahkan mengklaim bahwa Angkatan Laut AS beroperasi seperti bajak laut di perairan tersebut, sambil berbangga hati tentang operasi penyitaan kapal di tengah blokade yang diberlakukan terhadap pelabuhan Iran.
“Kami mendarat di kapal tersebut, lalu mengambil alih. Kami menyita kapalnya, muatannya, serta minyaknya. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan,” ungkap Trump saat menyampaikan pidato dalam sebuah kampanye di Florida.




