slot deposit qris depo 10k
bisnis

Ahli Prediksi Harga Plastik Melonjak Hingga 2 Tahun Karena Minimnya Pengganti

Diperkirakan bahwa kenaikan harga plastik akan terus berlanjut dalam waktu dekat. Para ahli berpendapat bahwa kurangnya alternatif bahan pengganti menyulitkan industri dalam menahan lonjakan biaya produksi, terutama di tengah tekanan harga energi global yang meningkat.

Plastik memainkan peran penting sebagai bahan pengemasan di berbagai sektor industri, termasuk konstruksi, otomotif, dan kesehatan. Ketergantungan yang tinggi terhadap material ini menyebabkan peralihan ke alternatif lain, seperti kertas atau kaca, menjadi tantangan yang tidak mudah. Perubahan ini memerlukan biaya besar dan modifikasi mendalam dalam proses produksi.

Joseph Foudy, seorang Profesor Ekonomi di NYU Stern School of Business, mengungkapkan bahwa pilihan pengganti plastik dalam jangka pendek sangat terbatas. Hal ini mendorong pelaku industri untuk mencari solusi lain dalam menekan biaya, salah satunya dengan melakukan penyesuaian pada desain produk mereka.

“Tidak banyak alternatif pengganti plastik,” jelas Foudy dalam sebuah wawancara.

Di sisi lain, Patrick Penfield, seorang Profesor di Syracuse University, menyatakan bahwa banyak perusahaan cenderung beralih ke plastik yang lebih tipis atau bahan yang lebih murah untuk mengurangi biaya. Produk-produk yang sebagian besar terbuat dari plastik, seperti kantong sampah, diperkirakan akan mengalami kenaikan harga yang lebih signifikan dibandingkan produk yang lebih kompleks, seperti kendaraan, di mana plastik hanya merupakan salah satu komponen.

Foudy juga memperingatkan bahwa dampak dari kenaikan harga minyak dunia mungkin akan berlangsung lama. Jika harga minyak tetap tinggi selama tiga hingga empat bulan ke depan, konsumen berpotensi menghadapi harga yang lebih mahal dalam jangka waktu satu hingga dua tahun mendatang.

“Jika harga energi tetap tinggi selama beberapa bulan ke depan, konsumen mungkin akan membayar lebih mahal untuk jangka waktu yang cukup panjang,” tambahnya.

Menurut laporan terbaru, harga minyak acuan global Brent crude mengalami penurunan sekitar 13 persen, kini berada di level US$94,80 atau sekitar Rp1.611.600 per barel. Sementara itu, harga minyak di pasar Amerika Serikat mengalami penurunan yang lebih signifikan, lebih dari 15 persen, menjadi US$95,75 atau sekitar Rp1.627.750 per barel.

Lebih lanjut, Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange, menilai bahwa pemulihan rantai pasokan plastik akibat penutupan Selat Hormuz tidak akan terjadi dengan cepat. Bahkan jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mereda dalam waktu dekat, dampaknya terhadap pasokan plastik masih akan terasa cukup lama.

Related Articles

Back to top button