kpkgg
berita

Isu Laga Settingan Perlu Ditelaah, DPR Soroti Hubungan Ekonomi Malaysia dan Singapura

Jakarta – Tim Nasional Indonesia telah berhasil melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah meraih kemenangan telak 9-2 atas Bangladesh. Namun, hasil pertandingan antara Malaysia dan Singapura yang berakhir dengan skor 6-0 menimbulkan kecurigaan di kalangan pengamat sepak bola.

Isu pengaturan skor dalam pertandingan Malaysia vs Singapura tersebut tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga berdampak pada hubungan diplomatik dan ekonomi Indonesia dengan kedua negara tersebut.

Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Hoerudin Amin, secara terbuka mengaitkan situasi ini dengan aspek ekonomi yang melibatkan Indonesia serta Malaysia dan Singapura.

Hoerudin menjelaskan bahwa Singapura telah menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Sementara itu, Malaysia juga tercatat sebagai salah satu investor utama di Indonesia.

Terkait dengan isu laga settingan dan hubungan ekonomi yang rumit ini, legislator dari Fraksi PAN ini menyoroti pendekatan kedua negara tetangga terhadap Indonesia.

“Indonesia telah membuka pintu lebar untuk investasi mereka, tetapi di lapangan, kami merasa seolah-olah dihalangi. Jika tuduhan ini terbukti benar, itu mencerminkan cara bertetangga yang tidak baik,” ujarnya.

Tuduhan mengenai pertandingan yang tidak fair antara Malaysia dan Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, pada malam 1 Oktober 2026, bukan tanpa dasar. Pertandingan itu menjadi penentu bagi tiket ke final FIFA ASEAN Cup 2026.

Perbedaan selisih gol menjadi faktor krusial untuk menentukan tim yang akan melaju ke partai puncak, memisahkan Indonesia dari Malaysia.

Hoerudin berharap agar Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, segera mengangkat isu ini ke ranah FIFA.

Ia juga meminta PSSI untuk mengumpulkan semua bukti yang relevan terkait pertandingan antara Malaysia dan Singapura.

“Ini bukanlah sebuah kebetulan yang bisa diterima akal sehat. Jika memang terdapat praktik pengaturan dalam pertandingan ini, itu akan menjadi pengkhianatan terhadap sportivitas dan sebuah penghinaan bagi Indonesia sebagai tuan rumah. FIFA tidak seharusnya menutup mata terhadap hal ini,” tegas Hoerudin.

Timnas Indonesia melangkah ke final setelah menaklukkan Bangladesh dengan skor 9-2. Dua gol terakhir Indonesia tercipta di masa tambahan waktu, menunjukkan performa yang mengesankan.

Menurut Hoerudin, kemenangan yang diraih oleh timnas tersebut terjadi melalui pertandingan yang berlangsung dengan adil dan sportif.

Oleh karena itu, Indonesia merasa berhak untuk menuntut standar sportivitas yang sama dari semua peserta yang terlibat dalam turnamen ini.

Hoerudin juga meminta FIFA untuk memberikan sanksi yang tegas jika di kemudian hari ditemukan bukti adanya praktik pengaturan atau kecurangan dalam pertandingan yang terjadi.

Related Articles

Back to top button