slot deposit qris depo 10k
bisnis

Harga BBM Non Subsidi Diperkirakan Akan Meningkat pada Bulan April 2024

Jakarta – Dalam konteks terbatasnya pasokan energi yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, analis dari Phintraco Sekuritas memperkirakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di tanah air akan mengalami peningkatan pada bulan April 2024. Prediksi ini sejalan dengan informasi yang beredar luas di media sosial mengenai kondisi pasar.

Berdasarkan sumber yang beredar, harga jual Pertamax diperkirakan akan naik menjadi Rp 17.850 per liter, yang berarti akan meningkat sebesar Rp 5.550 dari harga sebelumnya di bulan Maret 2024 yang tercatat sebesar Rp 12.300 per liter. Kenaikan harga eceran BBM non-subsidi ini kemungkinan besar disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah, yang bergerak dari Rp 16.819 per dolar AS menjadi Rp 16.877 per dolar AS.

Mengutip data yang ada, lonjakan harga juga akan dialami oleh Pertamax (RON 92) yang terpengaruh oleh peningkatan indeks harga pasar (HIP) BBM RON 92 yang melonjak sebesar 62,44 persen, dari US$73,91 per barel menjadi US$120 per barel. Kenaikan ini juga mencerminkan peningkatan sekitar 62,99 persen, yang setara dengan Rp 4.925 per liter, dari Rp 7.818 per liter menjadi Rp 12.744 per liter.

Selain itu, harga Pertamax Green 95 akan meningkat dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 19.150 per liter. Begitu pula dengan Pertamax Turbo, yang akan mengalami kenaikan dari Rp 13.100 per liter menjadi Rp 19.450 per liter.

Sementara itu, tim analis dari Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM ini disebabkan oleh tekanan dari harga minyak dunia. Berdasarkan berita terbaru, harga minyak mentah Brent telah meningkat sebesar 2,07 persen, mencapai US$114,90 per barel pada perdagangan terbaru. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate juga mengalami lonjakan, yaitu sebesar 1,37 persen menjadi US$101,01 per barel.

“BBM non-subsidi diperkirakan akan mengalami kenaikan pada saat penyesuaian harga bahan bakar bulanan diumumkan pada 1 April 2024,” ungkap tim analis tersebut dalam laporan riset mereka yang dipublikasikan pada 30 Maret 2024.

Kondisi ini, menurut tim analis Phintraco Sekuritas, mendorong pemerintah untuk menyusun berbagai langkah mitigasi guna menjaga stabilitas ekonomi domestik. Saat ini, pemerintah sedang merancang skema efisiensi anggaran, termasuk opsi penerapan kerja dari rumah (WFH) untuk mengurangi dampak dari lonjakan harga energi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemerintah juga telah mengidentifikasi tiga sektor utama yang berisiko terdampak, yaitu stabilitas energi, rantai pasokan global, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Untuk meredam dampak negatif tersebut, sejumlah langkah strategis telah direncanakan, termasuk penghematan energi serta penguatan mandat penggunaan biodiesel hingga 50 persen (B50).

Related Articles

Back to top button