Titik Panas di Sumatera Mencapai 3.734, Sumsel Mendominasi Jumlah Terbanyak

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru di Provinsi Riau telah menginformasikan adanya 3.734 titik panas di Pulau Sumatera. Dari total tersebut, Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan jumlah terbanyak, yaitu 2.639 titik, menjadikannya sebagai wilayah dengan kontribusi paling signifikan.
Menurut Gita Dewi S, seorang prakirawan BMKG Pekanbaru, data ini diperbarui hingga pukul 07.00 WIB pada Rabu, 30 September. Selain Sumsel, titik panas juga teridentifikasi di Jambi dengan jumlah 603 titik, Lampung sebanyak 263 titik, dan di Bangka Belitung terdapat 183 titik.
Wilayah Sumatera lainnya juga menunjukkan adanya titik panas, di mana Sumatera Barat terpantau dengan 13 titik dan Sumatera Utara dengan 17 titik. Sementara itu, Riau mencatat enam titik panas, dan Bengkulu serta Kepulauan Riau masing-masing terpantau dengan empat titik.
Sebaran titik panas di Riau terdistribusi di empat kabupaten, dengan Kabupaten Siak dan Pelalawan menjadi yang terbanyak, masing-masing mencatat dua titik. Sementara itu, Kabupaten Indragiri Hulu dan Bengkalis masing-masing hanya terdeteksi satu titik.
Kondisi titik panas yang tersebar di bagian selatan Sumatera ini berdampak pada munculnya kabut asap di Provinsi Riau. Jarak pandang di Pekanbaru saat ini tercatat hanya 3 kilometer, sedangkan di Rengat dan Pelalawan sekitar 5 kilometer, di mana kondisi ini disertai dengan asap yang cukup pekat.
Kepala Daops Manggala Agni Sumatera VI/Siak, Ihsan Abdillah, menyatakan bahwa sejumlah personel telah dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel. Kebakaran di lokasi tersebut terbilang serius, dengan asap yang tebal dan area terdampak yang meluas.
Berdasarkan pemantauan dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), kabut asap dengan intensitas sedang terpantau di Provinsi Riau. Sumber utama asap yang teridentifikasi melalui satelit berada di wilayah Sumatera Selatan. Pergerakan massa asap ini juga dipengaruhi oleh arah angin yang berhembus.
Ihsan menambahkan bahwa informasi yang diperoleh dari Sistem Informasi Peringatan dan Deteksi Dini Karhutla (Sipongi) dan BMKG menunjukkan bahwa pergerakan asap umumnya bergerak dari arah selatan ke utara, sebelum akhirnya berbelok ke arah Selat Malaka dan Malaysia.




