Aron Ashab Mengalami Pengurungan dan Penyiksaan Selama di Pesantren, Bukan Kebebasan

Aron Ashab baru-baru ini membagikan kisah yang mengguncang tentang pengalamannya yang hilang dari dunia maya selama hampir satu tahun. Dalam pengakuannya, ia menjelaskan kondisi yang dialaminya di sebuah institusi yang dikenal sebagai pesantren. Namun, menurut pandangannya, tempat tersebut lebih mirip penjara daripada pusat pendidikan agama. Aron tidak menyebutkan secara jelas lokasi atau nama pesantren tersebut.
Melalui sebuah unggahan di Instagram, Aron mengungkapkan berbagai tuduhan mengenai kekerasan fisik, pembatasan hak, dan perlakuan yang ia anggap melanggar hak asasi manusia (HAM). Ia juga melampirkan foto-foto yang dianggapnya relevan dengan pengalaman pahit yang dialaminya selama berada di tempat itu.
Dalam postingannya, Aron mempertanyakan penggunaan istilah pesantren oleh pihak yang bertanggung jawab, mengingat pengalaman yang ia alami sangat jauh dari konsep pembelajaran agama yang seharusnya. Ia menyampaikan keraguan terhadap metode yang diterapkan selama ia berada di sana, yang menurutnya sangat tidak manusiawi.
Aron menegaskan bahwa ia dan individu lain dipaksa untuk menjalani rutinitas keagamaan yang sangat ketat, termasuk melakukan salat hingga 120 rakaat dalam sehari dan berzikir selama berjam-jam. Ia juga menuduh adanya sanksi fisik bagi mereka yang gagal menghafal zikir tertentu, menambah deretan keprihatinan atas perlakuan yang diterimanya.
Lebih mengejutkan, Aron mengklaim pernah ditahan di ruangan bawah tanah. Ia menyatakan bahwa selama berbulan-bulan, ia tidak diperbolehkan melihat sinar matahari, bahkan merasa waktu tersebut bisa lebih lama lagi.
“Berapa banyak orang yang meninggal di tempat Anda? Bahkan abang saya pun meninggal di sana,” tulis Aron di Instagramnya pada Jumat (16/10/26), mengekspresikan kekesalannya terhadap situasi yang dialaminya.
“Kalian benar-benar orang-orang yang tidak adil,” lanjutnya, menegaskan betapa besar rasa sakit yang ia rasakan akibat perlakuan di tempat itu.
Aron juga berbagi tentang kesulitan yang ia hadapi terkait komunikasi selama di pesantren. Ia mengaku pernah diizinkan untuk menggunakan tablet milik salah satu orang di sana untuk menghubungi temannya dan meminta agar dikirimi ponsel.
Menurutnya, ia sempat memiliki harapan bahwa ponsel yang dikirimkan akan memudahkan akses komunikasi. Namun, Aron menuduh bahwa ponsel tersebut justru digunakan oleh pihak yang ia kritik.
Dia juga mempertanyakan alasan di balik penempatannya di tempat tersebut, mengingat ia merasa tidak pernah terlibat dalam tindakan kriminal apapun yang pantas mendapatkan hukuman seperti itu.




